Dua Kali Jadi Korban Trafficking

403

TEMANGGUNG—Nama Memey, bagi masyarakat Kabupaten Temanggung, sangat tidak asing. Ia adalah pengidap HIV/AIDS yang selalu tampil di muka membela para pengidap HIV/AIDS di daerah penghasil tembakau ini. Minggu (1/12) malam lalu, di sebuah forum HIV/AIDS bertempat di rumah dinas Wakil Bupati Temanggung, Memey bercerita panjang lebar, air mata tumpah dari para pengunjung menyaksikan kisahnya, termasuk anaknya.
“Saya sengaja tampil di depan, saya rela nama saya dipublikasikan, saya ikhlas sebagai bentuk pembelajaran bagi yang lain agar tidak menderita seperti saya,” kata Memey yang lahir Juni 1984 silam.
Memulai ceritanya, Memey mengisahkan tentang perjalanan hidupnya yang sangat pahit. Ia adalah bagian dari korban trafficking yang pada beberapa bulan lalu menjadi saksi di hadapan forum PBB di Wina, Austria. “Saya menjadi korban trafficking, saya dijual dan diperdagangkan seperti barang-barang,” katanya.
Setelah berhasil lepas dari jeratan trafficking, ia kemudian membina rumah tangga dengan seorang lelaki yang berharap dapat memperbaiki kehidupannya. Namun, setelah enam bulan mengandung, suaminya pergi dengan wanita lain. “Suami saya pengguna narkoba, akhirnya saya pulang kembali ke rumah orang tua di Temanggung. Itu terjadi saat saya hamil anak saya yang pertama,” kisah Memey yang membuat anak pertamanya meneteskan air mata.
Setelah melahirkan hingga anaknya berusia satu tahun Memey tak bekerja. Dalam keadaan bingung, kembali ada tawaran bekerja di luar negeri, tepatnya di Kuching, Malaysia. Namun, kisah sedih terulang kembali, ia menjadi korban traffiking berikutnya di Entikong.
“Saya masih ingat malam pertama di sana saya diajak belanja, terus ke salon, dirapikan, diberi pakaian bagus. Lalu makan malam di restoran. Tapi saya kaget karena kemudian diajak ke sebuah hotel. Saya baru sadar kalau menjadi korban trafficking yang kedua,” tuturnya.
Selama tiga bulan dia menjalani profesi yang sama sekali tidak pernah diinginkan. Dia berhasil lolos setelah ada seorang pengguna jasa memberikan ponsel. Lantas, Memey dan 10 perempuan lain, sesama orang Indonesia, menghubungi salah satu saudaranya hingga akhirnya diselamatkan polisi dan International Organization for Migration (IOM).
Memey dkk kemudian ditahan di kantor polisi Kuching selama dua pekan, sebelum dijemput Konjen RI dan mendapat pembekalan selama satu minggu di KBRI, tiga minggu dari IOM di Pontianak Kalimantan Barat, serta menjalani tes kesehatan. “Dari Pontianak saya dibawa ke Jakarta dan menjalani tes kesehatan lagi di RS Polri Kramat Jati. Nah, di sini saya baru dikasih tahu hasilnya jika saya positif mengidap HIV,” terangnya.
Hidup kemudian menjadi bertambah berat bagi Memey. Dia harus menyandang status pengidap HIV dan janda satu anak. Ia hampir putus asa, akan tetapi saat melihat anak laki-lakinya yang kala itu telah berusia 1,5 tahun, semangat hidupnya kembali terpompa.
Buta akan HIV/AIDS membuat dia penasaran. Dengan tekad besar, dia pun mulai mencari tahu hingga suatu hari bertemu seorang pengelola jaringan advokasi pengidap HIV di Salatiga. Setelah paham seluk-beluk HIV, pada 15 Maret 2008, bersama seorang teman, dia membentuk kelompok sebaya di Temanggung berlabel Smile Plus. Smile Plus dari hari ke hari berkembang, termasuk jumlah pengurusnya.
Tahun 2009 dia mulai melakukan advokasi ke Dinas Kesehatan, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), RSUD Temanggung. Ia menggagas pertemuan dan menunjukkan kepada orang-orang pemerintah ada orang dengan HIV/AIDS (odha) di Temanggung. Namun, bukan pekerjaan mudah menjalankan roda organisasi berisi para pe­ngidap HIV.
“Saya berharap, apa yang saya ceritakan ini dapat menjadi inspirasi bagi semuanya. Agar jangan tertular penyakit HIV/AIDS. Agar menjaga diri dengan baik. Tentunya juga sekolah harus utama. Ini terjadi pada saya karena saya tidak mau sekolah,” tandasnya. (zah/lis)