Para Gus Diskusi Kurikulum Ponpes

398

MUNGKID—Sebanyak 60 kiai muda (gus) pengasuh pondok pesantren di Jawa Tengah dan DIY berkumpul dalam halaqah di Pondok Pesatren API ASRI Tegalrejo, Kabupaten Magelang. Dalam kegiatan itu mereka merumuskan perkembngan kurikulum di pondok pesantren di masa yang akan datang.
Kasie Pondok Pesantren Ka­kan­wil Kementerian Agama Pro­vinsi Jawa Tengah, Muhtasid mengatakan melalui halaqah diharapkan kurikulum pendidikan ponpes tidak kalah de­ngan sekolah pada umumnya. Sebagai upaya agar lulusan lulusan ponpes bisa disetarakan dengn lulusan sekolah umum.
”Siswa yang belajar menata makanan, menata pakaian saja dapat ijazah pengakuan dari negara, kenapa santri ponpes yang mampu menghafal Alquran dan kitab kuning hingga ribuan lembar tidak? Ini yang sedang kita upayakan agar lulusan ponpes dapat pengakuan negara,” tandas Muhtasid.
Terpenting dari halaqah ini, tegas Muhtasid, adalah bagaimana menanamkan nilai kebangsaan kepada kiai muda sebagai salah satu landasan ponpes menghadapi tantangan zaman. Sebab, telah tertulis dalam sejarah bahwa kedaulatan NKRI tidak lepas dari perjuangan para pendiri ponpes di Indonesia.
”Saat ini ada banyak ponpes yang mendapatkan suplai dana dari negara Timur Tengah. Sungguh memprihatinkan ketika mereka kemudian tidak hafal lagu Indonesia Raya, tidak tahu bendera merah putih. Nah para kiai muda ini yang bisa mendesain kurikulum ponpes agar tetap menanamkan nilai kebangsaan,” tukas Muhtasid.
Kegiatan yang digelar sejak 30 November – 1 Desember 2013 ini merupakan hasil kerja sama Gerakan Pemuda Ansor dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah dan Pondok Pesantren API Asri Tegalrejo Kabupaten Magelang. Peserta mendapat materi dari berbagai narasumber yang ahli di bidangnya.
Sekjen PP Gerakan Pemuda Ansor, Rohman Basori me­nga­takan, pertemuan kiai muda pondok pesantren (ponpes) merupakan salah satu wujud visi dan misi GP Ansor untuk turut berpartisipasi memajukan pendidikan pondok pesantren di Indonesia.
”Melalui halaqah ini kami ingin memberikan pengetahuan, bekal life skill kepada kiai muda pimpinan ponpes untuk menghadapi tantangan era industrialisasi yang semakin ketat. Ponpes harus mampu menghadapi itu jika tidak ingin ketinggalan zaman,” kata Rohman. (vie/lis)