Satu Pekan 93 Rumah Rusak

364

WONOSOBO—Hujan deras yang terjadi secara berturut-turut sepanjang satu pekan terakhir di wilayah Wonosobo, menyebabkan banyak bencana longsor. Tercatat sedikitnya 93 rumah rusak berat dan ringan, diakibatkan longsor. Selain itu sejumlah sarana publik seperti jalan raya juga rusak.
Menurut Tri Antoro Kepala Bagian Humas Pemkab yang juga Humas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPPD), hujan deras terus mengguyur Wonosobo selama sepekan memicu bencana di sejumlah lokasi yang berada di lahan bertebing dan bertanah labil.
”Secara umum yang paling parah akibat hujan terjadi benca­na longsor di empat kecamatan,” katanya.
Tri Antoro mencatat, tak kurang dari 93 rumah milik warga di 3 kecamatan, meliputi Wonosobo, Wadaslintang dan Watumalang rusak dalam kategori sedang dan berat. Terbanyak, kerusakan rumah terjadi di Kecamatan Wadaslintang, sebanyak 82 rumah di 7 desa harus diperbaiki akibat longsor. Sedang di Kecamatan Wonosobo dan Watumalang, masing-masing 4 dan 7 rumah juga membutuhkan perbaikan. ”Catatan tersebut, sejak tanggal 22 hingga 26 Desember,” ujarnya.
Selain tiga kecamatan itu, Tri menambahkan, kerusakan rumah warga juga terjadi di Kecamatan Selomerto, yakni melaporkan jebolnya tanggul irigasi Mungkung, yang mengakibatkan rusaknya 3 hektare kebun salak dan albasia, serta 1 hektare sawah pascapanen. ”Longsornya saluran irigasi ini memberi dampak buruk terhadap petani, karena merupakan sarana pengairan sawah,” ujarnya.
Tri merinci setelah dilakukan penghitungan, akibat kerusakan 93 rumah tersebut, kerugian material mencapai Rp 500 juta. Kerusakan rumah warga di 3 kecamatan tersebut, menurut keterangan dari pihak kecamatan akibat longsornya senderan rumah dan sebagian lagi akibat tertimpa tanah longsor. ”Paling banyak kerusakan di Kecamatan Wadaslintang,” tuturnya.
Sekretaris Camat Selomerto, Budi Pranoto menjelaskan, akibat longsornya saluran irigasi Mungkung, membuat 3 hektare kebun salak dan albasia, serta 1 hektare sawah pascapanen di Desa Karangrejo, Selomerto rusak berat dan terendam lumpur. Karena tanggul yang ambrol sepanjang 25 meter.
”Tanggul tak mampu menampung debit air yang meluap, akhirnya ambrol,” ungkapnya.
Budi mengatakan, untuk mengatasi hal ini, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan para petani setempat, serta Dinas Pekerjaan Umum dan jajaran muspika untuk menanggulangi jebolnya saluran irigasi tersebut.
”Langkah yang telah kami lakukan dengan mengurangi aliran arus air irigasi di pintu-pintu pelimpah sepanjang saluran irigasi Mangunrejo, Mungkung, sampai Bumitirto,” tandasnya. (ali/lis)