Banyak Pasien Tak Tahu

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

TEMANGGUNG—Para pasien yang dirawat di RSUD Djojonegoro Temanggung mengaku belum mendapatkan informasi tentang program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). Minimnya sosialisasi menyebabkan para pasien tidak mengetahui tentang jaminan kesehatan yang baru berlaku sejak awal tahun ini.
”Saya tidak tahu tentang BPJS, tadi waktu masuk memang petugas rumah sakit tanya-tanya soal asuransi dan BPJS, tapi saya bingung karena tidak tahu, jadi saya jawab saja saya tidak punya BPJS, karena saya tidak punya asuransi kesehatan,” kata Ruminten, 49, salah seorang keluarga pasien di RSUD Djojonegoro Temanggung.
Ia mengatakan, ketika pertama kali mendaftarkan pasien, ia ditanya mengenai penggunaan asuransi kesehatan keluarganya yang sakit. Namun karena tidak mengetahui adanya asuransi kesehatan, ia menjawab tidak tahu. Petugas rumah sakit juga sempat menyampaikan tentang BPJS, namun tidak memberikan penjelasan.
”Katanya kalau pasien dapat BPJS, tapi saya malah tidak tahu apa itu BPJS dan apa fungsinya. Saya hanya diberitahu bisa dapat layanan BPJS. Saya karena tidak tahu saya cuma iya-iya saja,” paparnya.
Hal serupa juga dialami Pur­wito, 33, pasien ini mengaku tidak paham dengan layanan BPJS. Layanan pemerintah untuk jaminan kesehatan ini menurutnya kurang sosialisasi sehingga pasien minim informasi. ”Saya sempat dikasih tahu menggunakan BPJS, tapi saya tidak paham. Yang penting saya bisa sembuh,” kata pasien asal Desa Badran Kecamatan Kranggan ini.
Para pasien berharap, terkait layanan jaminan kesehatan ini, pihak-pihak terkait memberikan sosialisasi dan penyuluhan sehingga pengguna layanan menge­tahui fungsinya. Sejauh ini, para pasien hanya diberitahu mengenai nama program tanpa pengetahuan mengenai esensi dari program itu sendiri. ”Saya gunakan asuransi Equity, tapi katanya tidak masuk BPJS. Nah saya itu tidak tahu tentang asuransi apa saja yang masuk BPJS dan apa yang tidak,” tandas Purwito. (zah/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -