Ogah Jual Barang Bajakan, Kini Punya Empat Usaha

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Ulin Nuha, Eks Vokalis Band yang Banting Setir Jadi Entrepreneur

Saat menjadi vokalis band, Ulin Nuha pernah merasakan masa kejayaan. Mulai dari masuk dapur rekaman hingga menjadi bintang tamu di berbagai even musik. Meski akhirnya band tersebut bubar, dia tak patah arang. Kini dia bahkan sukses terjun sebagai pengusaha.

BENI DEWA, Kudus

DILIHAT sepintas, orang mungkin tidak menduga jika laki-laki yang satu ini telah berusia 37 tahun. Penampilannya masih tampak muda dan energik. Begitu juga semangat bisnisnya. Namun siapa sangka, sebelum terjun di dunia bisnis, dia sempat malang melintang sebagai musisi di berbagai panggung hiburan, khususnya di Jogjakarta.
”Dulu saya bergabung dengan Band Kurusetra. Kami dulu pernah masuk dapur rekaman di bawah naungan Sony. Waktu itu rekamannya sekitar tahun 2000 berupa album kompilasi. Salah satu band yang masuk album itu adalah Seurieus dari Bandung yang vokalisnya Candil,” ujarnya.
Selain masuk dapur rekaman, band yang kerap membawakan lagu-lagu Dream Theater ini juga sering menjadi bintang tamu acara musik dan mengikuti berbagai ajang festival. Tak jarang, mereka tampil sebagai juara. Bahkan, semua personelnya pernah meraih predikat sebagai best player. Tak terkecuali Ulin yang pernah menjadi best vocal di salah satu festival musik tingkat Jateng-DIJ di Semarang pada 1998 lalu.
Namun, roda kehidupan memang tak selalu di atas. Se­telah menelurkan album kompilasi, band yang bermarkas di Jogjakarta itu berharap bisa memiliki album sendiri. ”Setelah kami mengirim banyak lagu ke Sony, ternyata tak kunjung rekaman. Akhirnya semangat kami luntur juga. Mulai 2002, Kurusetra vakum dan bubar dengan sendirinya,” ujarnya.
Sejak itulah, Ulin mulai mencoba peruntungan dengan berwiraswasta. Dirinya membuka jasa pembuatan desain di Kota Gudeg. Meski hanya bermodal satu komputer, dia mencoba untuk dapat tetap bertahan. Terlebih saat itu dirinya telah berkeluarga dan memiliki satu putra. ”Itulah yang akhirnya menjadi titik balik kehidupan saya,” ujar laki-laki kelahiran Kudus, 28 September 1976 ini.
Seiring waktu, dia mampu mengembangkan usahanya dan membuka bisnis percetakan. ”Sedikit demi sedikit, percetakan itu semakin berkembang. Pelanggannya kebanyakan adalah mereka yang pernah menonton saya sewaktu masih menjadi vokalis Kurusetra,” ujarnya sembari tersenyum.
Dikatakan, awalnya dia membuka usaha percetakan seorang diri. Kemudian terus tumbuh hingga memiliki sekitar 20 karyawan. Namun, bisnis yang dia lakoni kembali menghadapi banyak rintangan. ”Kompetitor semakin banyak dan persaingan semakin ketat, akhirnya percetakan itu saya tutup,” kenangnya.
Sebelum bisnis itu ditutup, Ulin sempat membuka usaha di kota kelahirannya, Kudus. Yakni outlet Rumah Warna, franchise dari toko tas kenamaan.
Kali ini, usahanya berjalan mulus. Hanya dalam waktu satu tahun, dia sudah balik modal. Bahkan dalam kurun waktu kurang dari dua tahun, dia mampu menambah dua outlet Rumah Warna lagi, masing-masing di Jepara dan Semarang.
Tak hanya itu, Ulin pun mulai melebarkan sayap bisnisnya, dengan membuka distro Seephylliz di Kudus. ’’Sudah sekitar setahun ini dibuka,” kata ayah tiga anak yang membuka distro di Jalan Sunan Muria, Kudus, ini. ”Saya juga sedang mulai merintis usaha lain, berupa pusat ban di Kudus. Untuk membedakan dengan pusat ban lain yang sudah ada, tentu ada beberapa strategi khusus yang saya siapkan,” ucapnya.
Meski jalur bisnis berbeda dengan hobi nge-band dulu, namun menurutnya keduanya memiliki kesamaan. ”Dua-duanya sama-sama membutuhkan sentuhan seni,” bebernya.
Dikatakan, dalam bisnis juga dibutuhkan seni berpromosi, seni mendesain ruangan, seni mendesain iklan, seni mendesain produk, hingga seni menggaet konsumen. ”Satu lagi yang saya pelajari dari seni. Saya punya idealisme tidak menjual barang bajakan. Karena saya sendiri juga tidak suka kalau karya saya dijiplak orang dengan seenaknya,” katanya. (*/aji/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -