Fokus Penanganan Gizi Buruk dan AKB

388

MUGASSARI—Penanganan gizi buruk serta kematian bayi menjadi salah satu agenda yang digencarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang pada 2014 ini. Tahun lalu, kasus gizi buruk termasuk masih tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono mengungkapkan, angka kematian bayi (AKB) dan angka gizi buruk tahun 2013 di Kota Semarang menurun perlahan. Kendati demikian, kasus tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Dinas Kesehatan. “Memang dua kasus tersebut menurun tahun lalu. Tapi kami tetap hasus berusaha keras mencegahnya,” ujarnya.
Beberapa program pencegahan serta penanggulanan kian digencarkan di tahun ini. Diantaranya, dibuka rumah gizi bagi anak penyandang gizi buruk di Kecamatan Gunungpati. Rencananya rumah gizi tersebut akan mengundang para ibu yang memiliki anak kurang gizi untuk mendapatkan edukasi serta bantuan perbaikan gizi untuk anak. “Kami juga sudah melakukan program PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) dengan beberapa rumah sakit yang menangani. Harapannya tahun ini tidak akan ada lagi bayi dan balita di Kota Semarang yang kurang gizi,” ungkapnya.
Pada 2013 terdapat 228 kasus AKB yang menyebar di Kota Semarang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 293 kasus. Sedangkan angka gizi buruk menurun menjadi 780 kasus di 2013, yang sebelumnya mencapai 1.091 di tahun 2012.
Ia menjelaskan, penyebab AKB masih didominasi faktor keterlambatan dalam penanganan kelahiran. Sementara, lanjutnya, angka gizi buruk memiliki banyak faktor. Selain faktor perekonomian keluarga, ada juga yang disebabkan karena bawaan bayi. “Bawaannya itu karena mengalami gangguan pernafasan atau memang ada penyakit lain. Sehingga nutrisi yang masuk dalam tubuh meski banyak tetap tidak bisa dieserap,” ujarnya. (dna/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.