Fokus Penanganan Gizi Buruk dan AKB

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MUGASSARI—Penanganan gizi buruk serta kematian bayi menjadi salah satu agenda yang digencarkan oleh Dinas Kesehatan Kota Semarang pada 2014 ini. Tahun lalu, kasus gizi buruk termasuk masih tinggi.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang Widoyono mengungkapkan, angka kematian bayi (AKB) dan angka gizi buruk tahun 2013 di Kota Semarang menurun perlahan. Kendati demikian, kasus tersebut masih menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Dinas Kesehatan. “Memang dua kasus tersebut menurun tahun lalu. Tapi kami tetap hasus berusaha keras mencegahnya,” ujarnya.
Beberapa program pencegahan serta penanggulanan kian digencarkan di tahun ini. Diantaranya, dibuka rumah gizi bagi anak penyandang gizi buruk di Kecamatan Gunungpati. Rencananya rumah gizi tersebut akan mengundang para ibu yang memiliki anak kurang gizi untuk mendapatkan edukasi serta bantuan perbaikan gizi untuk anak. “Kami juga sudah melakukan program PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergensi Komprehensif) dengan beberapa rumah sakit yang menangani. Harapannya tahun ini tidak akan ada lagi bayi dan balita di Kota Semarang yang kurang gizi,” ungkapnya.
Pada 2013 terdapat 228 kasus AKB yang menyebar di Kota Semarang. Angka tersebut menurun dibandingkan tahun 2012 yang mencapai 293 kasus. Sedangkan angka gizi buruk menurun menjadi 780 kasus di 2013, yang sebelumnya mencapai 1.091 di tahun 2012.
Ia menjelaskan, penyebab AKB masih didominasi faktor keterlambatan dalam penanganan kelahiran. Sementara, lanjutnya, angka gizi buruk memiliki banyak faktor. Selain faktor perekonomian keluarga, ada juga yang disebabkan karena bawaan bayi. “Bawaannya itu karena mengalami gangguan pernafasan atau memang ada penyakit lain. Sehingga nutrisi yang masuk dalam tubuh meski banyak tetap tidak bisa dieserap,” ujarnya. (dna/ton)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -