Harga Cabai Melonjak

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

TEMANGGUNG—Lonjakan harga cabai yang terjadi selama beberapa pekan terakhir disebabkan produksi komoditas pedas ini mengalami gagal panen. Tanaman cabai rusak sebelum dipanen akibat curah hujan yang tinggi dan minimnya panas matahari. Hal tersebut menyebabkan pembusukan buah dan serangan hama.
Para petani sayuran di lereng Gunung Sindoro Sumbing mengaku mengalami kerugian setelah lahan mereka diserang virus dan bakteri. Dalam satu bidang, rata-rata kerusakan antara 30-50 persen. “Punya saya bahkan lebih dari separuhnya kena virus, sebagian masih bisa dipanen,” kata Sarwadi, 48, petani di Desa Lungge Kecamatan Temanggung.
Ia mengatakan, harga cabai saat ini telah menyentuh angka Rp 40 ribu per kilogram. Namun kenaikan harga tersebut tidak dapat dirasakan penuh akibat kerusakan tanaman. Jenis kerusakan yang dialami adalah buah cabai mengering dan daun layu kuning. “Lama-lama mati dan kering,” terangnya.
Sarwadi tidak sendirian menga­lami kerusakan, petani yang lain bahkan mengalami hal serupa bahkan lebih parah. Serangan penyakit jenis patek menyerang hampir semua komoditas hortikultura ini. Untuk menanggulangi dengan penyemprotan pestisida juga terhambat curah hujan yang tinggi. “Baru disemprot sudah diguyur hujan,” keluh Rosadi, 50, petani lainnya.
Di Kelurahan Kebonsari Keca­matan Temanggung, kerusakan tanaman cabai juga terjadi dengan jenis penyakit yang sama, patek. Petani cabai setempat, Suparno, 55, bahkan mengaku tidak bisa memanen cabainya karena sejak berbuah muda sudah mengering. “Masih cabai muda sudah diserang, jadi sama sekali tidak bisa dipetik,” katanya.
Meski tidak bisa menikmati hasil panen dengan sempurna, namun kenaikan harga yang terjadi masih dapat menutup biaya produksi sehingga petani tidak terlalu didera kerugian. “Masih ada yang bisa dipanen di lahan yang lainnya jadi tidak terlalu rugi karena harga jualnya juga sedang bagus,” tandasnya. (zah/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -