Pemilik Pabrik Mantan TKI

346

Omzet Zamzam Palsu Miliaran

BANYUMANIK — Pemilik dua pabrik pengolahan air zamzam palsu yang digerebek aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jateng, Rabu (15/1) di Polaman, Mijen, Semarang dan Batang (bukan Pekalongan seperti diberitakan kemarin, Red) adalah mantan tenaga kerja Indonesia (TKI) di Arab Saudi. Keduanya juga masih punya hubungan saudara.
Pemilik pabrik di Dusun Sebumi RT 01 RW 01, Kelurahan Polaman, Kecamatan Mijen, Kota Semarang seorang haji berinisial TH, 57, yang pernah bekerja sebagai TKI dan tinggal di Arab Saudi selama 30 tahun. Sedangkan pabrik di Desa Kaliwareng, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang juga milik seorang haji berinisial HD, 47.
Dari dua lokasi tersebut, petugas mengamankan sedikitnya 9 ribu liter air zamzam palsu. Sebanyak 7 ribu liter diamankan dari Mijen dan 2 ribu liter dari Batang. Selan itu, polisi juga mengamankan alat-alat penyulingan dan plastik kemasan serta alat pres (pengemasan).
Bisnis pabrik zamzam palsu milik TH sudah dijalani selama tiga tahun sejak 2011. Selama itu, TH memperoleh keuntungan total Rp 11 miliar, dengan rincian Rp 3 miliar pada 2011, dan masing-masing Rp 4 miliar pada 2012 dan 2013. Sedang HD baru melakukannya selama setahun dengan penghasilan Rp 250 juta.
Kabid Humas Polda Jateng Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto mengatakan, produksi air zamzam palsu di Mijen dilakukan dengan berkedok penggemukan sapi dan kambing. Sedangkan prosesnya dilakukan dengan memanfaatkan air artesis atau air tanah.
Air tanah tersebut kemudian disaring menggunakan filter yang biasa digunakan untuk air isi ulang. Setelah itu, hasilnya dikemas dalam kemasan khusus yang sudah disediakan terlebih dahulu.
”Produksi di Mijen itu mengolah air tanah seperti laiknya mengolah air isi ulang. Kemudian dikemas dengan kemasan berbagai ukuran,” katanya saat gelar perkara di Mako Ditreskrimsus Polda Jatang didampingi Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol Djoko Poerbohadijoyo, Kamis (16/1).
Sedangkan modus yang dilakukan HD di Batang, lanjut Liliek, adalah dengan mencampur air isi ulang biasa dengan air zamzam asli dalam sebuah tandon. Dari tandon tersebut, kemudian dikemas dalam kemasan berbagai berukuran.
”HD mencampur 13 galon air isi ulang dengan 10 liter air zamzam asli. Baru setelah itu dikemas,” lanjutnya.
Adapun kemasan yang digunakan oleh tersangka bermacam-macam. Mulai dari botol ukuran 330 ml, kemasan setengah liter, 5 liter, dan jeriken ukuran 10 liter. ”Setiap 10 liternya dijual seharga Rp 140 ribu,” terangnya.
Terkait kemasan yang digunakan, Kombes Pol Djoko Poerbohadijoyo menambahkan, jika tersangka memesan kemasan dari Surabaya. Untuk meyakinkan pembeli, di sisi luar kemasan diberi tulisan berupa label produk dengan nama Safewrap (SW). Ada juga yang dilabeli ”ZamZam”.
”Kemasannya berupa jeriken, galon, botol, dan plastik. Bentuknya dibuat mirip dengan yang asli dari Arab. Lengkap dengan label produk,” imbuh Djoko.
Selanjutnya, Djoko menyatakan bahwa hasil produksi zamzam palsu tersebut sudah didistribusikan ke beberapa kota di pulau Jawa. Di antaranya, Solo, Semarang, Jogjakarta, Surabaya, dan Jakarta. ”Untuk produksi di Batang sudah mencapai Tasikmalaya juga,” ungkapnya.
Hingga siang kemarin, TH dan HD masih menjalani pemeriksaan di Mako Ditreskrimsus Polda Jateng. Selain kedua tersangka, petugas juga mengamankan sejumlah saksi untuk dimintai keterangan. Saksi tersebut terdiri atas sembilan karyawan pabrik milik TH, dan lima karyawan pabrik milik HD. ”Tersangka masih kami periksa, juga saksi sebanyak 14 karyawan,” papar Djoko.
Terkait kasus produksi zamzam palsu tersebut, pihak kepolisian masih melakukan pengembangan. Sebab, dimungkinkan ada produksi lain, mengingat pabrik pembuat kemasan di Surabaya sudah mengetahui produksi zamzam palsu tersebut. ”Kami akan dalami. Termasuk pabrik pembuat kemasan serta toko-toko yang menjualnya,” tuturnya.
Dua tersangka yang nekat memproduksi zamzam palsu tersebut dijerat pasal 24 ayat 1 jo pasal 13 ayat 1, UU RI nomor 5 tahun 1984 tentang perindustrian, dan atau pasal 62 ayat 1 jo pasal 8 huruf a, f, j, UU RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen dan atau pasal 142 UU RI nomor 18 tahun 2012 tentang pangan.

Berkedok Tempat Rekreasi
Sementara itu, saat menggerebek pabrik air zamzam palsu di Desa Kaliwareng, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, aparat Ditreskrimsus Polda Jateng menyita ribuan kemasan air zamzam palsu siap edar, alat pengolah produksi air isi ulang, 4.800 liter air zamzam palsu yang belum sempat diproduksi, serta ribuan botol kosong berbagai ukuran. Barang bukti tersebut langsung diangkut ke Semarang dengan 3 truk besar.
Selain itu, Haji HD, 47, warga Jalan Sulawesi, Kelurahan Kergon, Kecamatan Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, pemilik pabrik tersebut juga dibawa ke Polda Jateng. Praktis, penggerebekan itu sempat menjadi perhatian puluhan warga setempat. Mereka tak percaya di lahan seluas 3 ribu meter persegi itu digunakan untuk pabrik air zamzam palsu. Selama ini, warga tahu tempat tersebut dipakai sebagai lokasi rekreasi.
Hal itu seperti dikatakan Wartiah, 52, pedagang warung makan, yang letaknya hanya 200 meter dari pabrik air zamzam palsu tersebut. ”Tempat itu memang lokasi rekreasi taman dan kolam renang, Mas. Biasanya buka pagi dan tutup sore hari. Kolam renangnya memang belum jadi,” ujar Wartiah.
Ia mengaku, kerap melihat truk keluar masuk ke lahan milik Haji HD tersebut. Namun ia tak curiga jika di lokasi itu dipakai sebagai pabrik air zamzam palsu. Sebagian besar warga mengira truk tersebut membawa material untuk pembangunan taman rekreasi.
”Warga tahunya sedang diadakan pembangunan, maka tidak curiga dengan keluar masuknya truk hingga larut malam,” lanjut warga Desa Kaliwareng RT 09 RW 05 itu.
Kepala Desa Kaliwareng, Nur Kangen, menjelaskan, Haji HD membeli lahan tersebut sekitar satu tahun lalu, dengan pengajuan izin sebagai tempat rekreasi. Bahkan, sejak 6 bulan lalu, tempat rekrasi tersebut sudah mulai dikunjungi warga, namun hanya belasan saja.
”Pengunjung yang datang ke lokasi itu bukan dari warga Desa Kaliwareng, entah dari mana. Karyawan yang bekerja hanya 2 orang saja asli warga desa, sisanya dari Kota Pekalongan,” jelas Nur Kangen.
Nur Kangen sendiri sempat curiga, dengan dibelinya tanah tersebut untuk lokasi rekreasi, karena lokasinya jauh dari jalan raya, dan sangat terpencil. Menurutnya, tetangga terdekat hanya warung makan, yang berada di tepi jalan Desa Kaliwareng Selatan.
”Produksi pabrik air zamzam itu malam hari hingga menjelang pagi, dan warga tahunya pagi digunakan untuk rekreasi, malamnya untuk pembangunan lokasi. Jadi, tidak curiga sama sekali,” tandas Nur Kangen.
Kapolsek Warungasem AKP Joeharso yang mendampingi Tim Ditreskrimsus Polda Jateng menuturkan, penggerebekan pabrik air zamzam palsu milik Haji HD dilakukan oleh tim yang dipimpin Kompol Poniman dan AKP Edy Purnomo.
Dia mengatakan, pabrik air zamzam palsu tersebut baru beroperasi sekitar 6 bulan lalu. Namun tidak menutup kemungkinan, Haji HD telah memproduksi di tempat lain.
”Pemasarannya sampai di Kota Solo, Jakarta, Surabaya, Medan bekerja sama dengan biro haji. Jadi, jaringan penjualannya sudah sangat rapi,” tegas AKP Joeharno sambil menunjukkan botol kemasan air zamzam palsu yang siap diedarkan. (har/hid/thd/aro/ce1)