Nelayan Terpaksa Jual Barang

342

SEMARANG – Sudah sepekan ini para nelayan di Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, tidak melaut karena cuaca buruk. Karena tidak mendapat penghasilan, sebagian besar dari mereka terpaksa menjual atau menggadaikan barang-barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
”Sudah satu minggu ini nganggur, tidak bisa melaut karena cuacanya buruk, ombaknya tinggi. Tidak ada kerja sampingan, jadi tidak ada penghasilan. Terpaksa saya menggadaikan perhiasan istri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Nanti kalau sudah melaut lagi dan punya uang, baru ditebus,” ujar Nur Alim, 43, nelayan Tambaklorok yang bermukim di RT 1 RW 15.
Jika melaut, setiap harinya dia mengaku bisa mendapatkan penghasilan hingga Rp 500 ribu per hari. Selama tidak melaut, dia menggunakan waktu luang untuk memperbaiki perahu atau jaring penangkap ikan. ”Tidak ada kesibukan lain, mau kerja yang lain juga tidak ada keterampilan. Terpaksa nganggur dan menunggu cuaca kembali membaik, baru melaut lagi,” tandasnya.
Hal senada juga dikatakan Uliyono, dia juga telah menjual barang berharganya untuk menutup kebutuhan sehari-hari. Apalagi selama sepekan tidak ada pemasukan sedikit pun, sedangkan kebutuhan hidup harus terus dipenuhi. ”Kalau yang punya barang berharga sementara kami jual dulu. Sedangkan yang tidak punya maka akan cari pinjaman. Ada ribuan nelayan asal Kota Semarang yang saat ini tak bisa melaut akibat angin kencang dan ombak tinggi. Kami berharap ada bantuan dari pemerintah bagi nelayan ketika musim paceklik,” ujarnya.
Biasanya kondisi cuaca buruk dan gelombang tinggi berlangsung selama bulan Januari sampai awal Februari. Para nelayan berharap pemkot memperhatikan nasib para nelayan yang tidak bisa melaut karena cuaca buruk.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Fajar Adi Pamungkas ketika meninjau keadaan nelayan Tambaklorok mengatakan, pihaknya akan berusaha mencarikan solusi atau bantuan bagi para nelayan. Apalagi hampir 80 persen warga Tambaklorok berprofesi sebagai nelayan. ”Selain bantuan, mungkin kami akan mengusulkan diadakan pelatihan keterampilan bagi nelayan. Mungkin dengan membuat kerajinan atau di sektor lain yang tak jauh dari produksi ikan,” tegasnya.
Pihaknya juga mendorong agar pemkot melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mengalokasikan anggaran khusus untuk nelayan Tambaklorok, saat seperti ini. ”Selama ini bantuan dari BPBD hanya diberikan kepada korban bencana fisik atau yang terlihat saja. Padahal bencana tidak selalu dilihat dari fisiknya saja, seperti nelayan ini, meski secara fisik tidak terkena bencana, tapi dari segi sosial akibat cuaca buruk mereka tidak bisa bekerja. Jadi menurut saya harus ada pos anggaran bencana bagi nelayan,” katanya. (zal/smu/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.