Puluhan Sekolah Tergenang Banjir

335

Siswa SMA 10 Diangkut Truk TNI
KEMIJEN — Banjir yang melanda Kota Semarang berdampak pada dunia pendidikan. Puluhan sekolah hingga Selasa (21/1) kemarin dilaporkan masih tergenang banjir. Di antaranya, SD Negeri Kemijen 03 Semarang Timur, SMA Negeri 10 Semarang di Genuk, serta SMP PGRI dan SMP Barunawati di wilayah Semarang Utara.
Kepala SD Kemijen 03, Suparti, mengatakan, dari enam kelas yang ada, yang tergenang banjir sebanyak tiga ruang kelas. Genangan air mulai masuk sejak Jumat (17/1) lalu. Namun kondisi paling parah terjadi pada Senin (20/1) lalu. Ketinggian air hampir selutut orang dewasa. ”Hari ini (kemarin) airnya sudah lumayan surut, tapi kalau hujan terus akan kembali tinggi,” ujarnya kepada Radar Semarang.
Dia mengaku, kondisi banjir sudah terjadi tiga tahun terakhir. Pihaknya sudah berkali-kali mengajukan usulan kepada pemkot melalui UPTD Pendidikan Semarang Timur, agar ada peninggian tiga ruang kelas tersebut.
”Kami juga sudah berkali-kali mengajukan usulan agar secepatnya dilakukan perbaikan. Katanya, tahun ini sudah dianggarkan, tapi realisasinya belum tahu. Harus dibangun, kalau ditinggikan, nanti ruangannya jadi pendek,” katanya.
Dari luar, sekolah yang terletak di Jalan Cilosari Barat RT 03 RW VII Kelurahan Kemijen tersebut memang tidak terlihat jika kebanjiran. Namun setelah masuk, air langsung terlihat menggenang di bangunan tiga ruang kelas. Air setinggi mata kaki masih menggenangi tiga ruangan yang biasa digunakan siswa kelas I, III, dan IV yang berada di lantai I. Sebab, kondisi bangunan tiga ruang kelas tersebut lebih rendah dibanding halaman sekolah.
”Kami terpaksa memulangkan siswa kelas I, sedangkan siswa yang lebih besar tetap melanjutkan pelajaran meski di tengah genangan air,” ujarnya.
Para siswa maupun guru setempat memang sudah terbiasa dengan kondisi seperti itu. Bahkan, kemarin sejumlah siswa terlihat fokus mengerjakan soal-soal latihan, sekali pun lantai di bawahnya terendam banjir. Kebanyakan dari mereka tidak mengenakan alas kaki, baik sepatu maupun sandal.
”Sudah terbiasa begini, Mas. Karena di rumah saya juga banjir. Tapi tidak enak juga kalau banjir terus. Udaranya jadi dingin dan susah konsentrasi,” keluh Arba, 10, siswi kelas IV.
Para siswa dan guru setempat berharap Pemkot Semarang segera merealisasikan peninggian bangunan tiga ruang kelas yang selalu menjadi langganan rob dan banjir tersebut.
Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang Fajar Adi Pamungkas yang meninjau lokasi menyayangkan lambatnya penanganan SD Kemijen 03. Padahal, kondisi tersebut sudah berlangsung selama tiga tahun. ”Ini membuktikan UPTD tidak serius. Sudah tiga tahun, tapi kenapa tidak ada realisasi perbaikan,” ujarnya.
Menurut dia, anggaran perbaikan tidak harus bersumber dari APBD, tapi juga bisa menggunakan dana dari pemerintah provinsi dan pusat. Dia mendesak agar perbaikan dengan meninggikan bangunan secepatnya direalisasikan.
”Memang sudah ada anggaran untuk SD Kemijen 03 ini, tapi baru sebatas pengurukan. Harusnya, pemerintah bisa memperhatikan hal lain, karena tidak hanya masalah peninggian, sarana prasarana juga harus diperhatikan. Seperti bangku, kursi, almari, dan sejumlah sarana pembelajaran lain yang rusak gara-gara terendam banjir. Skema anggaran tidak harus dari kota saja, tapi bisa diambilkan dari provinsi dan pusat, termasuk bisa menggunakan DAK (dana alokasi khusus),” tandas Legislator asal Fraksi Demokrat ini.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin menyatakan, sejumlah sekolah yang berada di kawasan rawan banjir menjadi prioritas pembangunan. Dikatakan, untuk SD Kemijen 03, sebenarnya sudah dibangun tiga ruang kelas baru. Namun masih ada beberapa ruang kelas yang memang perlu direhab.
”Memang harus ditinggikan. Kalau di bawah diuruk otomatis ruangannya jadi pendek. Kita akan lakukan peninggian segera. Selain SD Kemijen 03, SD Muktiharjo Lor juga perlu peninggian, meski bangunannya sudah kita tinggikan tapi halamannya masih belum. Tahun ini, kita akan fokus penanganan sekolah-sekolah yang berada di kawasan rawan banjir, akan kita prioritaskan,” tegas Bunyamin.
Kerahkan Truk TNI
Sementara itu, ratusan siswa SMA Negeri 10 kemarin diangkut menggunakan truk milik Kodim 0733/BS Semarang ketika berangkat dan pulang sekolah. Sebab, akses jalan masuk menuju sekolah tersebut direndam banjir setinggi 30 sentimeter.
Sekolah yang terletak di Jalan Kapas Utara Raya, Genuk Indah itu memang menjadi langganan banjir. Namun kemarin air yang masuk cukup tinggi, akibat guyuran hujan sejak Jumat lalu.
Truk Kodim tersebut diparkir di halaman sekolah hingga para siswa pulang. Saat bel pulang berbunyi, hujan deras mulai turun, siswa yang menaiki motor nekat menerjang hujan dan banjir. Sedangkan yang biasa naik angkutan umum diarahkan untuk menumpang truk Kodim.
Rizal, 16, salah satu siswa mengaku cukup terbantu dengan adanya truk TNI tersebut. ”Soalnya jalan akses menuju sekolah banjir. Kalau dipaksakan, celananya bisa basah,” akunya.
Hal senada dikatakan Herlina, 17, siswi warga Gebang Anom, Genuk. ”Tidak menyangka bisa naik truk milik TNI yang mengantar sampai sekolah. Padahal sebelumnya kami sudah malas-malasan menuju sekolah karena jalannya banjir,” akunya sambil tersenyum.
Kepala Staf Kodim 0733/BS Semarang Mayor Inf Rahmatullah mengatakan, pihaknya memang bersiaga dan siap membantu masyarakat di wilayah yang dilanda banjir. Salah satunya dengan mengerahkan truk guna mengangkut siswa. ”Diminta atau tidak, kami siap membantu masyarakat, terutama untuk wilayah banjir dan bencana alam,” katanya. (zal/hid/aro/ce1)