Rel KA Pelabuhan Digelontor Rp 30 M

344

GUBERNURAN — Dua tahun lagi, angkutan kontainer dari Pelabuhan Tanjung Emas Semarang ditargetkan tidak lagi dilakukan menggunakan truk. Pemerintah berencana memindahkan angkutan kontainer dari pelabuhan melalui jalur kereta api (KA). Dana sebesar Rp 30 miliar akan dikucurkan guna mengaktifkan jalur rel KA dari Pelabuhan Tanjung Emas menuju stasiun gudang, Semarang.
Detail Engineering Design (DED) proyek tersebut sudah jadi tahun lalu. Rencananya proyek akan segera dimulai tahun ini.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Jateng Urip Sihabudin mengatakan, nota kesepahaman (MoU) pengaktifan jalur rel Pelabuhan Tanjung Emas–stasiun gudang tersebut sedianya ditandatangani Menteri Perhubungan dan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Selasa (21/1). Namun karena Menteri Perhubungan ada acara mendadak dengan wapres, agenda tersebut tertunda.
”Sebenarnya yang terkait Dirjen Kelautan dan Perkeretaapian, sehingga MoU diwakili menteri langsung,” ujarnya.
Menurut Urip, jalur rel KA pelabuhan menuju stasiun gudang sebenarnya sudah ada. Namun karena lama tak difungsikan, sebagian ada yang terendam air dan di atasnya ada bangunan. Jalur tersebut akan difungsikan kembali guna mendukung transportasi angkutan berat melalui rel ganda.
”Tahun 2014 rencananya sudah mulai dibangun. Pemerintah pusat mengucurkan anggaran Rp 30 miliar secara bertahap. Tahun ini Rp 15 miliar dan tahun depan Rp 15 miliar lagi,” paparnya.
Dia menambahkan jarak pelabuhan menuju stasiun gudang sekitar 2,5 km. Meski dekat, pembangunan rel tetap membutuhkan biaya tinggi. ”Sebagai gambaran kasar, untuk membangun double track saja dibutuhkan sekitar Rp 20 miliar per 1 km,” imbuhnya.
Dengan pengaktifan tersebut, nantinya kontainer yang datang melalui kapal di Pelabuhan Tanjung Emas tidak lagi diangkut melalui truk, namun KA. ”Misalnya yang mau diantar ke Pekalongan ya lewat kereta. Begitu juga ke daerah lainnya,” paparnya.
Pengalihan moda transportasi angkutan berat tersebut dilakukan untuk mengurangi beban jalan raya, khususnya di pantura yang sudah overload.
Terpisah, anggota Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso mengatakan, pengalihan tersebut sudah seharusnya dilakukan. Terutama secara regulasi jalan angkutan barang memang harus dipisah dengan jalur transportasi umum. ”Itu salah satu yang saat ini efektif. Namun harus tetap memperhatikan keamanan dan kesesuaian dengan desain tata kota,” tandasnya. (ric/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.