Dihantui Wabah Leptospiroris

321

HAMPIR dua pekan wilayah Kota Semarang terendam banjir. Masyarakat yang menjadi korban banjir mulai terserang penyakit gatal-gatal dan rangen (penyakit kulit). Sementara bantuan obat-obatan dan posko kesehatan masih sangat minim.
Penyakit leptospirosis juga menghantui korban banjir. Diharapkan masyarakat waspada. Karena penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus ini bisa menyebabkan kematian bila tidak ditangani secara serius. Tingkat bahayanya (menyebabkan kematian, Red) mencapai 30 persen.
Fitri Wahyuni, 23, warga Jalan Kakap RT 06 RW 01, Kelurahan Dadapsari, Kecamatan Semarang Utara, mengatakan, banyak warga yang sudah mulai terkena penyakit gatal-gatal dan rangen. Sedangkan bantuan obat sampai kemarin belum ada. Tak hanya dirinya, Hafiza, anaknya yang berusia 5 bulan juga terserang gatal-gatal.
”Sudah satu minggu ini terserang gatal-gatal. Warga juga banyak yang terserang penyakit kulit. Selain bantuan makanan dan selimut, kami meminta bantuan obat-obatan,” katanya sembari menggendong anaknya.
Saat beraktivitas, dia lebih sering menumpang perahu karet. Dia juga berharap ada posko kesehatan didirikan selama banjir. ”Kalau mau ke puskesmas jauh. Harus melewati banjir. Sama saja, diobati, kena banjir lagi, gatal lagi. Kalau ada posko kesehatan yang lebih dekat lebih memudahkan warga berobat,” tandasnya.
Hal senada dikatakan Ketua RT 04 RW 1, Kampung Darat Nipah II, Dadapsari, Ridwan. Dari 60 Kepala Keluarga (KK), sekitar 40 persen warga yang terkena penyakit gatal-gatal dan rangen.
”Kemarin memang ada pengobatan gratis di Dadapsari, tapi itu tidak cukup, karena penderitanya semakin bertambah. Harus ada posko dan petugas kesehatan yang standby di sini. Paling tidak selama banjir belum surut,” harapnya.
Sunarti, 40, warga RT 6 RW 1 Gisikrejo, Kelurahan Bandarharjo, juga beharap ada bantuan obat-obatan. Semenjak banjir yang melanda daerahnya Jumat lalu, banyak warga yang terserang gatal-gatal.
”Yang terkena rangen banyak Mas. Biasanya di kaki, karena setiap jalan kena banjir,” ujarnya.
Dia juga mengaku sampai saat ini belum mendapatkan bantuan obat-obatan dari pemerintah. Selama ini warga berobat di puskesmas. ”Memang puskesmasnya dekat, berobat juga tidak bayar, tapi mau ke sananya harus melewati banjir lagi,” katanya.
Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang Widoyono menyatakan, masyarakat yang berada di lingkungan banjir berpotensi terserang penyakit leptospirosis. Bahkan jika terkena dan tidak segera ditangani, dapat menyebabkan kematian. Tingkat bahaya penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus itu mencapai 30 persen.
”Penyakit ini bisa menyerang orang dewasa maupun anak-anak. Untuk itu harus diwaspadai, biasanya anak-anak justru bermain air saat banjir, orang tua harus mengingatkan untuk tidak bermain banjir,” terangnya.
Potensi penyebaran atau penjangkitan penyakit tersebut sangat tinggi, karena banyak bangkai tikus dan kencing tikus yang tercampur air banjir. Kuman dari ginjal tikus itu bisa masuk melalui luka sekecil apa pun.
”Ada luka sedikit itu bisa masuk. Masa inkubasi leptospirosis dari kuman masuk sampai gejala itu biasanya satu minggu. Gejala awalnya panas, pusing, dan mual. Tapi, yang paling spesifik gejalanya panas dan nyeri betis. Penderita leptospirosis biasanya livernya terkena dan mata menjadi kuning, seperti penderita penyakit kuning. Kalau sudah ada tanda-tanda itu harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut,” jelasnya. ”Untuk menghindari penyakit itu, khususnya anak-anak, jangan sampai bermain banjir,” imbuh Widoyono.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi meminta DKK menurunkan unit puskesmas di titik rawan banjir. ”Posko kesehatan sangat penting untuk memeriksa kesehatan masyarakat yang menjadi korban banjir,” tandasnya. (zal/aro/ce1)