Semarang Darurat Bencana

302

Banjir Terparah Landa 6 Kecamatan
KUNINGAN — Bencana banjir dan longsor terus melanda Kota Semarang dalam dua pekan ini. Hampir seluruh wilayah Kota Semarang terendam banjir, namun yang terparah ada di 6 kecamatan. Wali Kota Hendrar Prihadi pun menetapkan status darurat bencana untuk Kota Semarang, Kamis (23/1) kemarin. Pejabat yang akrab disapa Hendi meminta seluruh satuan kerja perangkat daerah (SKPD) turun ke lapangan melakukan pendataan dan menurunkan bantuan bagi korban bencana.
”Saya memutuskan Semarang darurat bencana. Penetapan status ini kita beri spelling waktu satu minggu dari hari ini (kemarin, Red). Atau paling tidak sampai kondisi cuaca membaik,” tegas Hendi di sela pantauan banjir di wilayah Kecamatan Semarang Utara, Kamis (23/1).
Berdasar hasil laporan, ada 6 kecamatan yang kondisi banjirnya cukup parah, yakni Kecamatan Semarang Utara, Semarang Timur, Pedurungan, Gayamsari, Genuk, dan Tugu. Kemarin sejumlah SKPD dibagi 6 zona untuk melakukan pemantauan banjir maupun tanah longsor.
”Hujan yang mengguyur Kota Semarang belakangan ini intensitasnya sangat tinggi. Hal itu membuat genangan air di sejumlah kawasan sulit surut. Saya minta setiap daerah banjir didirikan posko dapur umum dan pengobatan,” ujar wali kota yang akrab disapa Hendi ini.
Dia meminta bantuan yang diberikan kepada korban banjir maupun tanah longsor harus berupa makanan jadi atau matang. Sehingga masyarakat tidak perlu repot-repot lagi memasak.
Pantauan di lapangan di Kelurahan Dadapsari, Kuningan, dan Bandarharjo, banyak warga yang mengharapkan bantuan berupa makanan. ”Kami butuh makanan Pak, mana makanannya,” ujar sejumlah warga ketika melihat rombongan wali kota melintas. ”Pantauan ora nggowo makanan podo wae, aku we isoh (pantauan tidak membawa makanan sama saja, saya saja bisa, Red),” teriak salah seorang warga Kuningan.
Pantauan banjir di tiga kelurahan kemarin, rata-rata ketinggian air masih di atas lutut orang dewasa. Hendi sempat dicurhati seorang warga jika pemberian bantuan makanan tidak dilakukan secara adil. Bantuan hanya didominasi sekelompok orang saja.
”Kita jumpai masih ada pembagian bantuan yang tidak adil. Untuk itu, saya minta lurah dan camat untuk menginventarisasi warga yang menjadi korban banjir secara detail, utamanya yang tidak mampu. Jangan sampai pembagian bantuan ini salah sasaran atau tidak dibagi secara merata,” tandasnya.
Ridwan, salah seorang warga Kelurahan Dadapsari mengatakan, warga membutuhkan bantuan makanan, selimut dan pakaian pantas pakai. Sebab, sudah hampir dua minggu ini pakaian warga banyak yang terendam banjir. Jika malam udara dingin, sementara selimut mereka juga basah gara-gara banjir. ”Kasihan anak-anak kecil di sini, banyak yang kedinginan. Selimut dan pakaian sangat dibutuhkan,” ujarnya.
Wali kota menginstruksikan kepada seluruh jajaran SKPD terkait untuk mengambil langkah cepat dalam perbaikan infrastruktur. ”Setelah kering nanti pemkot memiliki banyak PR (pekerjaan rumah) terkait perbaikan infrastruktur, utama di 6 kecamatan yang banjirnya parah,” katanya. ”Dinas PSDA ESDM harus mengerahkan alat berat untuk membersihkan saluran dari sampah dan sedimentasi,” tegasnya.
Dia juga meminta camat dan lurah untuk menyiapkan tempat yang layak bagi masyarakat untuk mengungsi. ”Saya lihat masih ada masyarakat yang mengungsi di musala. Saya minta camat dan lurah setempat menyediakan tempat yang layak dan representatif bagi warga yang mengungsi,” terangnya.
Pantauan Radar Semarang kemarin, sejumlah wilayah di Kota Semarang masih terendam banjir dengan ketinggian yang bervariasi, mulai 20 sampai 80 sentimeter akibat hujan deras yang mengguyur sejak Rabu (22/1) malam. Wilayah-wilayah yang tergenang banjir, antara lain jalan depan Kantor Pos Besar Semarang dengan ketinggian air mencapai 30-60 sentimeter, dan kawasan Kota Lama Semarang setinggi 40-60 sentimeter.
Seluruh kawasan Kota Lama Semarang tergenang banjir, termasuk akses masuk ke Stasiun Tawang Semarang. Bahkan, stasiun kereta api (KA) tersebut juga terendam banjir dengan ketinggian air mencapai 80 sentimeter.
Salah seorang calon penumpang, Rahmayanto, 32, mengaku masuk ke Stasiun Tawang terpaksa harus naik angkot, karena kondisinya yang tidak memungkinkan. ”Kalau tidak naik angkot atau becak, akan basah. Salah satunya jalan harus naik becak atau angkot,” katanya.
Penumpang lainnya, Indriyanto, 30, mengatakan, dengan adanya banjir sangat mengganggu, terutama ketika keluar Stasiun Tawang, terpaksa harus naik becak. ”Ini sangat mengganggu sekali, karena harus keluar biaya untuk menuju ke jalan,” keluhnya.
Genangan banjir juga terjadi di halaman Stasiun Poncol Semarang dengan ketinggian air mencapai 30 sentimeter. Para calon penumpang harus berjibaku melawan genangan air untuk bisa sampai loket penjualan tiket. Tak jarang mereka menyewa becak untuk bisa sampai di dalam stasiun. Banjir juga mengganggu aktivitas bongkar muat barang di kawasan tersebut. Akibatnya, banyak kiriman barang yang tertunda keberangkatannya.
Kepala Humas PT Kereta Api Indonesia Daops 4, Eko Budiyanto mengatakan, banjir kali ini yang terbesar. Namun tidak ada pengalihan jalur di berbagai jurusan. ”Akibat dari banjir itu, penumpang yang berangkat dari Stasiun Tawang dialihkan ke Stasiun Poncol,” katanya.
Banjir kemarin juga menggenangi Pasar Johar dengan ketinggian 20-30 sentimeter, kemudian kawasan bisnis dan pertokoan di Jalan KH Agus Salim hingga Bundaran Bubakan Semarang, Jalan MT Haryono dan Jalan Pattimura Semarang. Ketinggian air di Bundaran Bubakan relatif tinggi mencapai sekitar 70 sentimeter sehingga menyebabkan banyak kendaraan bermotor, terutama sepeda motor yang akhirnya mogok karena tak kuat menerjang banjir.
Jalan Pattimura, Jalan dr Cipto, dan sepanjang Jalan Citarum hingga mendekati jembatan Arteri Semarang juga tak luput dari genangan banjir. Setidaknya ketinggian air di titik tersebut antara 40-50 sentimeter. Deretan sepeda motor mogok terlihat hampir di seluruh ujung jalan yang tergenang banjir itu, meski ada beberapa pengendara yang berhasil melewati genangan air tanpa mengalami kendala mesin mati.
Anak-anak dan pemuda sekitar yang memanfaatkan fenomena banjir untuk mengais rezeki pun bermunculan di titik-titik tersebut untuk menawarkan jasa dorong motor, jasa gerobak angkut, dan bengkel ”dadakan”. Banjir juga tampak di Jalan Kaligawe, Jalan Imam Bonjol, dan Jalan Petek. Di Jalan Imam Bonjol, banyak dijumpai sepeda motor mogok terkena banjir.
Selain menggenang jalan, banjir juga menggenangi wilayah permukiman warga, terutama di kawasan Semarang Utara, Tugu, Semarang Timur, Gayamsari, dan Genuk. Di antaranya, wilayah Bugangan, Sawah Besar, Kaligawe, Muktiharjo Kidul, Gebangsari, dan Tlogosari Kulon.
Banjir kemarin juga merendam Mapolsek Semarang Utara. Bahkan, air masuk ke dalam ruang tahanan. Hal itu memaksa aparat Polsek Semarang Utara mengungsikan tahanan. Sebanyak 15 tahanan diungsikan ke ruang tahanan Mapolrestabes Semarang, Kamis (23/1). Hal itu dilakukan sebagai antisipasi agar tahanan tidak sakit lantaran terendam air.
”Ruang tahanan tergenang air setinggi 30 sentimeter. Sedang di halaman mencapai 50 sentimeter. Jadi, kami mengambil langkah tersebut (mengungsikan, Red),” kata Kapolsek Semarang Utara Kompol Budiman Gultom kemarin.
Sebelum memutuskan untuk mengungsikan tahanan, kapolsek lebih dahulu memberitahu kepada atasan, yakni Kapolrestabes Semarang. Oleh Kapolrestabes, langkah tersebut kemudian direspons baik. ”Kapolrestabes langsung mengirim pasukan Dalmas untuk membantu mengevakuasi tahanan dan membawanya ke Mapolrestabes,” ujarnya. (zal/hid/har/aro/ce1)