Kuliah sambil Jualan Koran, Kini Sudah S2

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Sarmadi, dari Takmir Masjid Kini Jadi Dosen dan Wirausahawan
Sarmadi tak pernah lepas dari masjid. Sejak kecil, selama kuliah, hingga menjadi dosen, pegawai rumah sakit dan wirausahawan, ia tetap menjadi pengelola masjid. Dari masjid pula, ia dapat memberdayakan perekonomian masyarakat sekitarnya.

AHMAD FAISHOL, Kaliwiru

MASJID Raya Candi Lama di Jalan Dr Wahidin, Kaliwiru, Semarang termasuk masjid yang memiliki fasilitas lengkap. Di masjid ini ada fasilitas perpustakaan, kantin, Baitulmaal Masjidku, serta klinik masjid. Tak heran, setiap hari masjid yang berada di tepi jalan raya ini tak pernah sepi pengunjung.
Salah satu pengelola Masjid Raya Candi Lama ini adalah Sarmadi. Sosoknya sederhana, namun memiliki ide-ide cemerlang. Bahkan, berkat inovasinya pula, masjid tersebut kerap menjadi rujukan atau studi banding dari pengurus takmir masjid-masjid lainnya.
Pak Sar –panggilan akrab Sarmadi- mengaku, telah menjadi takmir masjid sejak kecil di desa kelahirannya di daerah Purwodadi, Grobogan. Ketika itu, ia kerap tidur di masjid ketimbang di rumahnya. Selepas dari SMA, Sarmadi becita-cita melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun lantaran terbentur masalah biaya, impiannya itu belum terwujud.
Meski demikian, ia tak patah semangat. Ia terus berusaha agar bisa kuliah. Sarmadi pun ikut saudaranya yang bekerja di Jakarta. Niatnya ingin mencari kerja, sehingga bisa mengumpulkan uang buat kuliah. Di Ibu Kota, Sarmadi hanya bertahan selama dua tahun. Setelah itu, ia pindah ke Semarang, dan bekerja menjadi staf tata usaha (TU) di SMP Muhammadiyah.
Sejak itulah, Sarmadi tinggal di Masjid Raya Candi Lama. ”Alhamdulillah ada salah satu guru yang menawari saya untuk ikut bersih-bersih di masjid tersebut sekaligus memakmurkannya,” kenang Sarmidi.
Selama bekerja menjadi TU SMP, Sarmadi juga nyambi menjual koran. Gaji menjadi TU dan hasil jualan koran kemudian dikumpulkan untuk melanjutkan kuliah seperti yang dicita-citakan. Ia pun masuk di Fakultas Dakwah IAIN Walisongo Semarang.
”Selama lima tahun kuliah, saya nglaju dari masjid ke kampus. Selama itu pula bersama remaja masjid, saya merintis berbagai kegiatan yang ada di Masjid Raya Candi Lama ini,” ungkap suami dari Asti Hanani ini.
Sifat sederhana, sabar, dan terbiasa hidup prihatin yang dijalani, rupanya membawa keberuntungan bagi Sarmadi. Terbukti, selepas lulus kuliah, tepatnya pada 2002, Sarmadi diterima bekerja di Rumah Sakit Roemani Semarang sebagai pembimbing rohani Islam. Tugasnya, mendampingi pasien dalam menghadapi ujian sakit dari Allah. Ia juga membimbing tata cara ibadah, hingga mentalqin, yakni menuntun atau membimbing pasien yang hendak meninggal untuk mengucapkan kalimat tauhid.
Meski sudah menyandang gelar sarjana, Sarmadi tak berhenti dalam mencari ilmu. Ia pun melanjutkan kuliah S2 di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang.
”Alhamdullilah setelah lulus S2, saya diterima menjadi dosen Pendidikan Agama Islam di Universitas Pandanaran Semarang,” kata ayah empat anak; M. Fahim Ahsani, M. Nazif Mulia, M. Nurkholis Hasan, dan M. Haikal Mumtaz ini.
Meski sudah menjadi karyawan rumah sakit dan dosen, Sarmadi tetap mengelola Masjid Raya Candi Lama. Bahkan, untuk lebih memakmurkan masjid, Sarmadi mendirikan klinik masjid. Kebetulan ia kenal baik dengan sejumlah dokter. Apalagi Sarmadi bekerja di rumah sakit. ”Ide itu saya lontarkan kepada pengurus masjid, ternyata disepakati. Maka, sejak tahun 2005, klinik masjid dibuka,” ujarnya.
Tak berhenti sampai di situ, Sarmadi juga memiliki inisiatif untuk membuat kartu berobat gratis yang dananya dihimpun dari masyarakat. Untuk mengumpulkan dana itu, ia membuat kotak yang dititipkan ke rumah-rumah warga untuk diambil setiap akhir bulan.
”Saat ini telah ada sekitar 80 kartu berobat gratis yang disebarkan kepada masyarakat,” imbuh pria yang saat ini menjabat bendahara Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kota Semarang ini.
Untuk meningkatkan ekonomi warga, Sarmadi juga mengajarkan kepada para jamaah masjid untuk membuat sabun deterjen matic yang ramah lingkungan. Keterampilan tersebut diperoleh Sarmadi ketika mengikuti pembelajaran membuat sabun di Jogjakarta.
”Kebetulan yang mengajari saya mengizinkan untuk ditularkan kepada orang lain. Nama deterjennya MWI yang merupakan kepanjangan dari Mitra Wirausaha Indonesia,” bebernya.
Selain mengajarkan wirausaha membuat deterjen matic, ia juga merintis pendirian lembaga keuangan syariah, Baitulmaal Masjidku. Tak hanya itu, ia juga mengembangkan wirausaha sendiri. Awalnya, ia berjualan tabung gas elpiji, kemudian merambah bisnis es puter dengan nama Rujak Es Krim Masyon. Saat ini, ia telah mempunyai dua cabang. Ia berencana untuk terus meningkatkan lagi, dan membuka mitra usaha.
”Kami sudah memiliki alat dan resep yang saya ciptakan sendiri. Sehingga es krim tersebut dapat dipasarkan untuk kateringan dalam jumlah yang besar,” kata pria yang hobi membaca ini.
Sarmadi juga punya inisiatif mendirikan kantin di RS Roemani tempatnya bekerja. Dalam merekrut karyawan, ia sengaja mengajak anak-anak di desanya yang hendak melanjutkan pendidikan, namun terkendala biaya. Selain itu, ia juga mengajak ibu-ibu bekerja untuk menambah penghasilan keluarga.
”Di kantin itu, saya tidak menikmati sendiri. Tapi, saya membuka bagi siapa saja yang ingin menitipkan barangnya untuk dijual,” ungkap pria yang tinggal di Pondok Jangli Indah No 5 Semarang ini.
Sarmidi berharap apa yang dilakukannya menjadi upaya untuk pemberdayaan masyarakat yang berangkat dari masjid. Mulai dari ekonomi, kesehatan, serta kesejahteraan masyarakat. ”Sehingga di samping masjid menjadi makmur, juga dapat memakmurkan masyarakat,” pungkas pemilik moto hidup membuat orang lain bahagia ini. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -