Butuh Bubur Bayi dan Kaos Kaki

285

SUKOREJO–Sejumlah pengungsi korban tanah longsor di wilayah Trangkil Baru RT 6/RW 10, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati, mengharapkan bantuan bubur bayi, susu, diapers serta kaos kaki. Kebutuhan untuk balita ini seakan terlupakan.
“Kalau bantuan lain, seperti makanan, sudah cukup sedangkan selimut ada tetapi terbatas. Kalau makanan bayi belum ada,” kata salah seorang pengungsi Agustri, 41, warga Trangkil Baru RT 06/RW 10 saat ditemui di posko pengungsian.
Agustri mengaku sudah berada di pengungsian sejak Kamis (23/1) lalu, begitu longsor merusak puluhan rumah di kawasan itu. Meski rumahnya rusak parah dan tidak bisa ditempati, Agustri mengaku masih bersyukur karena bencana alam itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa. “Kalau inginnya segera pulang ke rumah, tetapi kan tidak bisa. Terpaksa tinggal di sini sampai nanti kondisinya sudah benar-benar normal,” katanya.
Selama di pengungsian, Agustri sering kedinginan karena tidur di tenda. Apalagi saat malam hari sering turun hujan deras. Jika orang dewasa tersiksa dengan kondisi ini, anak-anak yang daya tahannya lebih lemah tentu lebih tersiksa.
“Yang belum ada bantuan kaos kaki, pasalnya kalau malam hari rasanya dingin. Bahkan anak-anak jadi rewel dan tidak bisa tidur. Tidak hanya itu beberapa anak sudah mulai terkena sakit demam sehingga rewel terus,” katanya.
Pengungsi lainnya, Denti, 35, juga mengalami hal serupa. Hingga kemarin ia belum mendapatkan bantuan makanan bayi. Sementara bantuan logistik lainnya, dirasanya sudah cukup. “Khusus makanan bayi memang belum ada, kasihan anak-anak. Susu bayi juga tidak ada,” kata ibu dua orang anak yang juga warga Tangkil Baru RT 06/RW 10.
Sementara itu relawan yang tergabung dalam Korps Sukarela (KSR) Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Karya Husada Semarang kemarin tampak bermain-main dengan anak-anak pengungsi. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemulihan trauma yang bisa saja dialami korban bencana yang masih kecil.
Bertempat di salah satu tenda pengungsian, puluhan anak-anak tampak asyik mengikuti kegiatan pendampingan yang banyak diisi dengan permainan-permainan. Anak-anak duduk melingkar di dalam tenda, sementara seorang relawan berada di tengah mengajak berinteraksi. Sesekali, terdengar tawa ceria anak-anak dari balik tenda pengungsian.
Komandan KSR Stikes Karya Husada Semarang Imam Subkhi, mengatakan kegiatan itu ditujukan untuk memberikan pendampingan dan motivasi kepada korban bencana alam, terutama anak-anak agar merasa terhibur dan tidak mengalami stres. “Untuk itu kegiatan ini diisi dengan pendampingan melalui berbagai permainan-permainan yang menarik. Sehingga, anak menjadi terhibur, tidak stres memikirkan bencana. Dan kegiatan ini dilakukan setiap hari,” ungkapnya.
Imam menjelaskan, ada 50 anak pengungsi yang menjadi korban tanah longsor di Trangkil. Sebanyak 9 personel KSR diterjunkan untuk menghibur anak-anak ini. Selain di Trangkil, 5 personel KSR juga dikirim untuk menghibur korban banjir di kawasan Genuk.
Salah seorang pengungsi anak, Cikal, 10, mengaku sangat terhibur dengan adanya kegiatan pendampingan yang dilakukan KSR Karya Husada. Apalagi banyak permainan yang bisa diikutinya dalam kegiatan itu. “Sangat senang sekali, dengan permainan ini agar tidak bosan,” kata siswa Kelas V Sekolah Dasar (SD) Negeri Sekaran 02. (hid/ton)