Tionghoa Ikut Kembangkan Wayang Orang

343

PECINAN – Pengenalan wayang orang pada masyarakat umum ternyata dipelopori oleh warga Tionghoa, Gan Kam. Ketertarikannya akan budaya Jawa, membuat Gan Kam membawa wayang orang ke dalam panggung pertunjukan.
Hal ini diungkapkan oleh Guru Besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Prof Rustono dalam talkshow ”Peran Masyarakat Tionghoa dalam Pengembangan Seni Budaya Jawa” di Gedung Rasa Dharma, kemarin (27/1).
Wayang orang masih menjadi salah satu kesenian yang hanya disajikan dalam lingkungan keraton hingga masa Mangkunegara V. Kemudian di masa pemerintahan Mangkunegara VI terjadi permasalahan ekonomi yang cukup buruk, yang juga berimbas pada kesenian tersebut. ”Agar pemerintahan ini bisa terus berjalan, maka pengeluaran banyak yang harus dipangkas. Salah satunya biaya untuk wayang orang. Para pemainnya lantas diberhentikan,” ujarnya.
Dengan seizin Mangkunegara VI, Gan Kam lantas merekrut para pemain wayang orang tersebut. Dari kesenian dalam keraton, wayang orang ini menjadi hiburan. Yaitu dengan menyajikannya di atas panggung. Para penonton ditarik bayaran yang digunakan untuk menggaji pemain.
”Ini sekitar tahun 1895. Nah, di sini industrialisasi kesenian wayang orang dimulai,” ujarnya.
Gan Kam yang pada masa itu dikenal sebagai salah satu orang kaya kemudian mendirikan panggung wayang orang di Solo. Sejumlah pementasan terbilang sukses, hingga wayang orang ini populer dan booming.
Jejak kesuksesannya membawa wayang orang ke panggung hiburan lantas diikuti oleh banyak pihak. Baik orang-orang kaya dari etnis Tionghoa maupun etnis Jawa. Di antaranya Lie Sien Kwan, Lie Wat Gien dan Pakubowono X.
”Kebanyakan orang tahunya PB X yang mengembangkan wayang orang. Memang benar, tapi yang lebih dahulu membawa ke industri hiburan Gan Kam. Karena PB X membangun WO Sri Wedari pada 1910,” ujarnya.
Dalam perkembangannya, ucap Rustono, masyarakat Tionghoa terlibat tak hanya sebatas dukungan finansial namun terjun ke dalam pementasan langsung. Salah satu yang cukup terkenal WO Dharma Budaya, salah satu grup wayang orang yang tidak komersial dari Solo. ”WO ini dari pemain wayangnya, kemudian yang memainkan karawitannya semua dari etnis Tionghoa,” imbuhnya. Di Semarang, ada Sunu Budaya pimpinan Tjoa Kok Tie dan Mekar Terate pimpinan Tan Tiong Sien.
Penggiat Teater Lingkar Suhartono Padmosumarto menilai baiknya tak ada pembedaan etnis kala berbicara pelestarian budaya. Kecintaan terhadap seni dan budaya yang menjadikan tiap individu tergerak untuk ikut meletarikan. ”Baik itu wayang asli maupun kreasi diharapkan bisa menggeliatkan kembali seni budaya ini,” ujarnya. (dna/ton/ce1)