Briptu Fr Sudah Dibidik sejak Agustus

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

BARUSARI — Briptu Fr, oknum penyidik Polsek Genuk yang tertangkap membawa sabu-sabu merupakan jaringan pengedar narkotika baru yang bermain di Kota Semarang. Itu terbukti dari jumlah barang yang dibawa Briptu Fr sebanyak 25 gram. Sementara tiga anggota Polres Demak hanya merupakan pemakai.
Direktur Rersese Narkoba (Dirresnarkoba) Polda Jateng, Kombes Pol John Turman Panjaitan mengaku masih menyelidiki dari mana asal 25 gram sabu milik Briptu Fr. Namun melihat jumlah barang yang dibawa, Briptu Fr diduga sebagai pengedar yang mendapatkan barang haram tersebut dari seorang bandar. ”Briptu Fr itu pengedar, dan sudah lama beroperasi. Ini masih kami kembangkan dari mana barang didapatkan,” katanya kepada Radar Semarang.
John Turman menegaskan, Briptu Fr bukan jaringan Iptu Hendro, anggota Polda yang ditangkap sebelumnya. Briptu Fr, kata dia, memiliki jaringan tersendiri dalam mengedarkan narkotika di Semarang. ”Itu beda jaringan, meski sama-sama anggota polri. Anggota masih mengembangkan jaringan Briptu Fr,” ujarnya.
Selama ini, John Turman mengaku sudah melakukan berbagai upaya untuk menekan angka penggunaan sabu di kalangan Polri. Hampir setiap tahun, terus dilakukan cek urine masing-masing personel di wilayah Polda Jateng. Tapi, ternyata tetap masih ada anggota yang menggunakannya. ”Kalau tes urine sudah terus kami lakukan, tapi tetap ada yang memakai. Ke depan akan kami perketat lagi,” tegasnya.
Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Djihartono mengatakan, Briptu Fr sudah positif menggunakan sabu saat dilakukan tes urine oleh Polda Jateng pada Agustus 2013 silam. Saat itulah, Briptu Fr terus dipantau penyidik, hingga akhirnya tertangkap tangan membawa 25 gram sabu. ”Briptu Fr merupakan pemakai, dan sudah dipantau,” katanya.
Djihartono menambahkan, Polrestabes Semarang langsung melakukan tes urine kepada sejumlah personel di polsek-polsek. Semua dilakukan untuk mengantisipasi agar tidak ada anggota yang mengonsumsi atau membawa narkotika. ”Semua langsung dicek urine, dan kami akan melakukannya secara rutin,” ujarnya.
Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol Alloysius Liliek Darmanto mengatakan, empat polisi yang tertangkap nyabu pasti akan diproses hukum. Mereka tetap menjalani hukum pidana layaknya masyarakat sipil. ”Untuk sidang disiplin pasti diberikan sanksi tegas. Jika terbukti, mereka bisa dipecat,” tegasnya.
Resmi Tersangka
Sementara itu, Polres Demak menetapkan tiga oknum polisi nyabu sebagai tersangka. Mereka adalah anggota Polsek Bonang Brigadir AG, anggota Satlantas Polres Demak Aipda SB dan anggota Provos Polres Demak Aiptu SG. Hingga kemarin, mereka masih ditahan di Mapolres Demak untuk menjalani pemeriksaan di ruang Satnarkoba.
Wakapolres Demak Kompol Teddy Rayendra melalui Kasubag Humas AKP Sutomo menegaskan, pihaknya tidak tebang pilih dalam memberantas narkoba. Meski yang menjadi pelaku adalah anggota kepolisian sendiri, namun tetap ditindak tegas sesuai aturan hukum yang berlaku. ”Dalam memberantas narkoba kita tidak tebang pilih,” ungkapnya didampingi Kasat Narkoba AKP Pujo Irianto di sela pemeriksaan intensif terhadap tiga tersangka, kemarin.
Dalam perkembangan hasil pemeriksaan diperoleh keterangan bahwa, ketiganya semula membeli sabu seberat 0,25 gram dari seorang warga Kecamatan Guntur. Barang haram yang dikemas dalam satu paket itu dibeli dengan sistem paket hemat (pahe) seharga Rp 400 ribu. Setelah dipakai, sabu tersebut tinggal menyisakan seberat 0,19 gram plus pembungkus plastik. ”Sisanya itu kita jadikan barang bukti (BB) beserta pipet atau bong dan alat isap,” kata AKP Sutomo.
Pemeriksaan yang dilakukan terhadap para tersangka juga terungkap, mereka nekat menggunakan narkoba itu agar tidak cepat ngantuk saat kumpul-kumpul atau ngobrol bareng di asrama. Barang sabu itu kini masih diteliti di laboratorium forensik Polda Jateng. Dari penelitian itu nantinya dapat diketahui status positif atau tidak dalam penggunaan narkoba. ”Kita masih belum pastikan apakah positif atau tidak. Kita tunggu hasil labfor bagaimana. Yang jelas, mereka bertiga sudah ditetapkan sebagai tersangka pengguna narkoba,”ujarnya.
Informasi yang diperoleh koran ini menyebutkan, ketiga oknum polisi yang ketahuan nyabu bersama di asrama polisi milik tersangka Aipda SB itu sebelumnya diketahui teman mereka sendiri. Itu berawal dari rasa curiga pintu rumah ditutup rapat-rapat dari dalam. Saat pintu diketok, tidak segera dibuka. Saat itulah, anggota provos Polres Demak makin penasaran. Akhirnya, setelah pintu dibuka, SB sebagai penghuni asrama terkejut, namun sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Barang bukti pun berhasil disita petugas provos. Karena itu, mereka kemudian ditangkap temannya sendiri sesama anggota polisi Polres Demak.
Kasubag Humas AKP Sutomo menambahkan, ketiga tersangka tidak diketahui apakah mereka menjadi target operasi atau tidak. ”Yang jelas, cuma kebetulan mereka nyabu, makanya langsung ditangkap,” katanya.
Terkait pesta narkoba di asrama polisi, pihak Polres Demak akan melakukan evaluasi serta menjalankan pengawasan secara ketat. ”Kita tidak boleh kecolongan lagi,” ujarnya.
Menurutnya, untuk mengawasi asrama seperti itu diakui tidak mudah. Sebab, yang datang kadang teman-temannya sendiri. Kompol Teddy Rayendra mengatakan, proses penyidikan terhadap ketiga anggota polisi tersebut masih terus dilakukan. ”Masih dilakukan penyidikan lebih lanjut,” ujarnya.
Sementara itu, soal tertangkapnya tiga oknum polisi nyabu di asrama yang berada di belakang Polsek Karang Tengah pada Sabtu (25/1) lalu itu, warga sekitar mengaku tidak tahu-menahu. Sebab, posisi asrama agak ke dalam, tepatnya di belakang masjid Desa Karangsari, Kecamatan Karangtengah.
Pantauan koran ini, ada sekitar 8 asrama. Namun, tidak semua asrama ditempati anggota polisi. ”Saya tidak tahu kalau ada penggerebekan di asrama (terkait narkoba),” kata Jasman, warga RT 2 RW 2, Desa Karangsari saat ditanya koran ini. Dia mengatakan, tidak terlalu akrab dengan anggota polisi yang menghuni asrama tersebut. ”Justru saya baru tahu dari sampeyan,” katanya. (fth/hib/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -