Harga Bahan Makanan Melonjak

324

SEMARANG – Memburuknya cuaca disertai banjir di berbagai daerah akhir-akhir ini menyebabkan harga sejumlah bahan makanan terus mengalami kenaikan. Harga beras, sayur-mayur, telur dan bahan makanan lain melambung di pasar-pasar di Kota Semarang
Naiknya harga kebutuhan pokok tersebut, sangat dimungkinkan karena pasokan dari sejumlah daerah tersendat karena cuaca dan banjir. Akibatnya stok sejumlah bahan pokok menjadi terbatas. Selain itu, musim hujan membuat tanaman sayur gagal panen dan harganya naik.
”Hampir semua kebutuhan dapur harganya naik, termasuk sayur-mayur. Sekarang yang masih stabil harganya hanya tomat, kentang dan kubis karena pasokannya lancar dari daerah Sumowono dan Temanggung,” kata Sutarmi, 55, seorang pedagang di Pasar Simongan Kota Semarang.
Dia menjelaskan untuk harga kangkung yang awalnya hanya Rp 1.500 per ikat, sekarang menjadi Rp 2.000, bayam dari Rp 3.500 menjadi Rp 4.000, terong semula Rp 1.500 menjadi Rp 3.000, kentang Rp 9.000 menjadi Rp 10.000 per kilogram. Selain itu, harga bawang merah, bawang putih dan cabai juga ikut naik.
Menurut Sutarmi, harga cabai merah dan cabai hijau sebelum musim hujan masih berkisar Rp 32.000 sedangkan pada saat musim hujan ini sudah mencapai harga Rp 40.000 per kilogramnya. Untuk bawang merah dan bawang putih yang semula berkisar Rp 11.000 sekarang naik menjadi Rp 17.000. ”Saya khawatir dengan minat pembeli pada saat musim hujan ini, bisa-bisa banyak sayuran yang busuk karena tak laku dan pendapatan pun jadi ikut menurun karena uang pokoknya masih nyangkut di barang-barang,” katanya.
Sementara itu untuk harga beras dan telur juga mengalami kenaikan. Pedagang lainnya di Pasar Simongan, Sunarto, 45, mengatakan harga beras mengalami kenaikan rata-rata Rp 100 hingga Rp 200 per kilogramnya. Sedangkan untuk telur yang bulan lalu Rp 15.000 per kilogram, sekarang naik drastis menjadi Rp 19.000 per kilogram.
Ia mengaku banyak pembeli juga berkurang. Selain harga yang tinggi, kondisi pasar juga becek bahkan banjir. Karena itu bila biasanya menjelang pukul 12.00 dagangannya sudah habis terjual, kini sampai sore pun dagangannya masih banyak dan uang yang dihasilkannya pun berkurang hingga 50 persen per hari. ”Kalau tidak habis ya saya buang, soalnya kan ini musim hujan jadi esok harinya sudah busuk dan saya pun rugi,” ungkapnya. (mg5/mg7/mg10/smu/ce1)