Tolak Order demi Jaga Mutu

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Perajin Batik Pekalongan
KAJEN — Hujan yang turun hampir sepanjang hari di Kabupaten Pekalongan berimbas pada produksi batik. Minimnya sinar matahari, sangat berpengaruh pada penjemuran, usai proses pewarnaan. Sudah lebih dari sebulan, perajin batik terpaksa menolak order.
Deretan jemuran kain batik yang selama ini selalu berjejer di jalan Desa Karangjompo, Tegaldowo, hingga Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, tidak ada tinggal hamparan air karena banjir. Kalaupun ada, hanya tampak satu-dua saja.
Mulyono, 34, seorang perajin batik warga Desa Karangjompo RT 02 RW 99, Kecamatan Tirto, mengaku selama musim hujan, ia sulit untuk menjemur kain batik.
Minimnya matahari dan cuaca, membuat warna yang dihasilkan, tidak sesuai. Ia mengaku, banyak konsumen yang komplain dengan buruknya warna kain, karena tidak sama dengan pesanan.
”Kalau mendung terus dan tidak ada sinar matahari, kain batik yang sudah diberi warna, tidak bisa cepat kering. Kalaupun dipaksakan, warna yang dihasilkan cenderung kusam. Nah, daripada dikomplain pelanggan, mending saya menolak order,” ungkap Mulyono.
Solikhin, 52, perajin batik lainnya, warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto, mengalami hal serupa. Menurut dia, menjelang Imlek, biasanya banyak pembeli dari luar kota seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, memesan kain batik produksinya.
Tapi, karena masih musim hujan, terpaksa ia menolak pesanan tersebut. Hal itu dilakukan demi menjaga kualitas warna. ”Kekuatan Batik Pekalongan itu pada warna. Warna yang cerah dan mencolok. Pewarnaan, selain karena campuran obat, juga karena sinar matahari. Kalau cuaca tidak menentu selama berhari-hari, warna akan sangat kusam.”
Damirin, 57, perajin batik senior, warga Warulor RT 05 RW 02, Kecamatan Wiradesa, mengaku punya strategi khusus, selama musim hujan.
Ia mengaku selektif menerima pesanan. Pesanan hanya diterima untuk warna lembut atau warna alam yang tidak mencolok.
Pengurus Dekranasda Kabupaten Pekalongan, Abdullah Baihaqi, menyarankan para perajin batik menggunakan teknologi modern dalam pencahayaan saat pembuatan kain batik. ”Pencahayaan dengan menggunakan lampu khusus, mungkin bisa menjadi alternatif tersendiri,” tutur Kepala Bagian Perekonomian, Kabupaten Pekalongan itu. (thd/isk/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -