Satu Kamar Dihuni 12 Orang

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SMG 20140201.inddWarga Trangkil Keluhkan Fasilitas Rusunawa

KALIGAWE — Sehari direlokasi ke rumah susun sewa (rusunawa) Kaligawe, 32 kepala keluarga (KK) warga Perumahan Trangkil Baru, Kelurahan Sukorejo, Kecamatan Gunungpati sudah mengeluhkan fasilitas yang ada. Pasalnya, warga kesulitan untuk memasak, serta tidur dengan alas seadanya. Padahal sebelumnya, pemkot menjanjikan akan memberikan kasur dan selimut. Ironisnya lagi, ada satu unit kamar berukuran 3×6 meter dihuni 3 KK atau sebanyak 12 orang.
Pantauan Radar Semarang kemarin (31/1), suasana rusunawa Kaligawe tampak lengang. Di lantai 4 blok A yang menjadi tempat warga Trangkil tinggal, sejumlah penghuninya tampak berbincang dengan tetangga kamarnya. Penghuni lantai di bawahnya juga terlihat mengunjungi warga baru tersebut.
Sejumlah anak-anak mengisi liburan sekolah dengan bermain petak umpet. Setidaknya mereka merasa lega karena sudah mendapatkan tempat untuk tidur yang aman, tidak lagi menempati tenda pengungsian.
Hanya saja, fasilitas rusunawa yang mereka tempati masih sangat minim. Janji Pemkot Semarang memberi bantuan kasur dan selimut, belum terealisasi. Alhasil, mereka menggunakan tikar dan karpet sebagai alas untuk tidur.
Sedangkan untuk makan sehari-hari, mereka masih mengandalkan logistik cadangan dari bantuan pemerintah. ”Karena kita sudah diwanti-wanti tidak boleh membawa barang banyak-banyak, kondisi ruangannya terbatas. Jadi, karena tergesa-gesa banyak yang tidak membawa kompor. Untuk sementara kita makan dari persediaan bantuan, seperti roti. Kalau tidak ya beli makan di luar. Selain itu juga banyak yang tidak membawa kasur,” terang Sumarmin, 68, penghuni kamar 10 B Rusunawa Kaligawe Blok A lantai 4, kemarin (31/1).
Sumarmin juga berharap ada tambahan unit lagi untuk keluarganya. Sebab, di kamar rusun yang berukuran hanya 3×6 meter itu, dia tinggal bersama istri, Rikini, lima orang anak, yakni Supriyanti, Haryono, Ngatno, Desi Ariyanti, dan Toni Winarno, serta lima orang cucunya.
”Sebelumnya, di rumah Trangkil juga dihuni 3 KK (12 jiwa). Tapi di rumah sana (Trangkil) cukup luas, ukurannya 4×12 meter. Sementara di tempat relokasi ini kami hanya mendapat satu unit. Mau bagaimana lagi. Tidurnya ya lesehan. Kalau pakai tempat tidur tidak muat,” ujar kakek yang menjadi warga Trangkil Baru selama 4 tahun ini.
Ditanya apakah akan kembali ke Trangkil Baru dan memperbaiki rumahnya yang 50 persen roboh akibat longsor? Sumarmin mengaku masih menunggu perkembangan dan kondisi tanah di sana. Dia belum bisa memastikan berapa lama lagi tinggal di rusunawa.
”Kalau nanti tidak ada gejala dan tanahnya sudah stabil, saya akan melakukan perbaikan rumah. Untuk saat ini tidak ada pandangan untuk menjual,” terang pria yang sehari-harinya bekerja sebagai juru parkir di kawasan Bangkong itu.
Menurutnya, yang masih dipikirkan saat ini adalah nasib sekolah cucu-cucunya. Dua cucunya, yakni Megawati Permatasari dan Nova Dwi Pangestu, sekolah di SD Sekaran 01. Orang tuanya juga belum memiliki rencana memindahkan kedua putrinya yang masih duduk di kelas 5 dan 3 SD itu.
”Kalau yang satunya SMP tidak masalah, bisa berangkat sendiri. Yang masih SD belum bisa, harus diantar. Rencana pindah sekolah belum dibicarakan,” katanya.
”Hampir 50 persen warga Trangkil Baru yang menghuni rusunawa ini memiliki anak SD yang bersekolah di daerah Sekaran. Kami juga berharap ada bantuan buku tulis dan seragam untuk mereka. Karena peralatan sekolah dan seragam yang dulu banyak yang rusak karena longsor,” harapnya.
Hal senada juga dikatakan penghuni kamar 11 B, Aji Setianingrum, 38. Untuk sementara anaknya yang masih duduk di bangku kelas 2 SD Sekaran 01, Syarif Ahmad, akan diantar jemput oleh ayahnya.
”Belum mikir pindah sekolah, biar nanti diantar ayahnya. Karena di sana sekolahnya bagus. Sayang kalau keluar,” katanya.
Disinggung apakah akan kembali ke rumahnya di Trangkil Baru, dia juga masih akan menunggu perkembangan tanah di sana. ”Mau dijual atau tidak saya belum tahu. Kalau memang masih memungkinkan kita tetap menempati, meski ada rasa waswas,” ujarnya.
Pun dengan Ariyanti, 34, dia masih akan mempertahankan rumahnya yang 60 persen hampir ambruk. ”Nunggu dulu tanahnya stabil, tapi sementara saya masih akan tinggal di sini sambil mengumpulkan uang untuk memperbaiki rumah. Di sini tetangganya juga ramah-ramah. Seharusnya kami orang baru yang silaturahmi ke warga lama, tapi di sini, warga yang lama justru menghampiri kami,” ujarnya.
Sebelumnya, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi berharap warga Trangkil yang rumahnya dilanda longsor tidak kembali lagi. Tanah dan rumah yang ditinggalkan masih sepenuhnya menjadi hak warga. Pemerintah hanya bisa mengimbau untuk tidak ditempati kembali.
”Kalau bisa tidak dijadikan tempat tinggal, silakan kalau mau difungsikan sebagai ladang. Dan bisa mencari rumah atau kontrakan lain. Kita hanya sekadar memfasilitasi di rusunawa, memang yang namanya tempat pengungsian pasti tidak senyaman di rumah sendiri,” ujarnya.
Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Sunindyo, merasa prihatin dengan kondisi rusunawa yang kotor dan jorok. Banyak sampah, cat mengelupas, keramik pecah, talang bocor, serta gedung kotor. Bahkan, ia sempat menyentil wali kota selaku pihak yang bertanggung jawab atas perawatan gedung tersebut.
”Pak wali mana? tidak ada ya, Pak asisten tolong kondisi rusunawa diperhatikan. Yang bocor-bocor, sampah-sampah dibersihkan. Kalau memang butuh tenaga, kita siap, nanti Kodim dan Koramil akan membantu,” tandasnya.
Pantauan Radar Semarang, kondisi bangunan rusunawa Kaligawe memang kurang terawat. Di beberapa titik, dindingnya ditumbuhi tanaman. Para penghuni juga membuang limbah memasak sembarangan, banyak tempelan spanduk dan MMT, kandang burung, termasuk tempat jemuran yang kurang rapi. (zal/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -