BI Intensifkan Kinerja TPID

316

SEMARANG – Menghadapi inflasi Jateng yang mencapai 1 persen pada Januari lalu, kantor perwakilan BI akan terus meningkatkan koordinasi secara lebih intensif dengan anggota Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), baik di level provinsi maupun kabupaten/kota.
Menurut Kepala Kanwil BI V Jateng-DIJ, Sutikno, saat ini pihaknya telah membentuk 20 TPID di Jateng. Untuk mengendalikan inflasi ke depan, BI juga mengeluarkan rekomendasi terkait beberapa hal, di antaranya percepatan perbaikan dan peningkatan kualitas infrastruktur akibat banjir sehingga jalur distribusi dapat segera pulih dan tidak cepat rusak. Selain itu diusulkan penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) untuk elpiji agar harga elpiji di tingkat pengecer dapat lebih terkendali. ”Hal ini tentu saja perlu didukung oleh infrastruktur yang memadai sehingga dapat menekan biaya transportasi,” kata dia.
Sebelumnya, kenaikan harga elpiji yang terjadi pada awal tahun ini menjadi salah satu penyebab inflasi Jateng yang mencapai 1 persen. Selain itu, bencana banjir yang mengakibatkan ratusan hektare sawah terendam air dan berujung pada kenaikan harga beras juga menjadi faktor lain terjadinya inflasi.
Dikatakan, hingga saat ini stok beras bulog sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan beras, termasuk untuk daerah yang terkena banjir. Meski demikian, stabilitas harga beras perlu dijaga, baik melalui penguatan stok beras Bulog maupun penyediaan kualitas beras yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. ”Dengan kondisi tersebut, inflasi diperkirakan akan mereda sejalan dengan perkiraan meredanya intensitas curah hujan. Namun begitu, koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait akan terus dilakukan untuk mendukung pencapaian inflasi tersebut,” paparnya. (ars/smu/ce1)