12 Ribu Buruh Batik Dirumahkan

356

KAJEN – Musibah banjir yang terjadi di 48 desa pada 11 kecamatan di Kabupaten Pekalongan selama 3 pekan terakhir, mengakibatkan produksi batik menurun hingga 80 persen.
Diperparah dengan cuaca yang tidak menentu, membuat ratusan pengusaha batik, menutup usahanya untuk sementara waktu. Mereka terpaksa menghentikan 12 ribu buruh batik, hingga cuaca kembali membaik.
Kerugian yang diderita oleh 400-an pengusaha batik, ditaksir mencapai miliaran rupiah. Sebab, banyak batik yang masih dalam proses pengerjaan ikut terendam banjir. Juga banyak kain batik yang rusak, karena ikut terendam banjir.
Pariyah, 18, warga Desa Kemplong, Kecamatan Wiradesa, seorang buruh mengaku sudah sebulan tidak bekerja. Tepatnya, sejak memasuki musim hujan dan tempat usahanya terendam banjir.
Menurut Pariyah, semua pembatik terpaksa diberhentikan, menunggu banjir reda dan cuaca membaik. ”200 buruh semua diberhentikan, nanti akan dipanggil lagi, kalau sudah tidak banjir dan ada panas,” ucap Pariyah yang dibayar dengan upah per hari Rp 9 ribu.
Pariyah mengatakan, meski upah yang diterimanya sangat rendah, ia mengaku cukup senang, karena bisa bekerja dan membantu orang tua.
Menurut Pariyah, buruh batik tak ada yang upahnya sesuai UMK, kecuali yang bekerja sebagai borongan. ”Kakak dan ibu saya juga semua diberhentikan, padahal mereka bekerja di lain tempat di Desa Kauman dan Kepatihan.”
Hal serupa disampaikan oleh Sri Dumawati, 24, salah satu korban banjir warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Tirto. Ia mengaku tidak bisa membatik, karena rumahnya terendam banjir, dengan ketinggian 60 sentimeter.
Selama ini, pekerjaan membatiknya, dikerjakan di rumah dan dikembalikan jika sudah selesai. ”Karena rumah terendam banjir, ya saya tidak bisa membatik,” ucap ibu satu anak ini saat ditemui di Posko Pengungsian Kopindo Wiradesa.
Ketua Paguyuban Batik Wiradesa, Failasuf, Jum’at (7/2) siang kemarin membenarkan ada 12 ribu buruh batik di Kabupaten Pekalongan yang saat ini tidak bekerja. Mereka diberhentikan sementara, sembari menunggu hingga banjir reda dan cuaca membaik.
Akibatnya, klaim Failasuf, 80 persen produksi batik menurun. Sebab, perajin batik tidak bisa menjemur batik yang telah diwarnai.
Bupati Pekalongan, Amat Antono, menuturkan, meski produksi batik menurun, namun penjualan batik meningkat. Menurut Amat, sebelum banjir, banyak pengunjung yang datang ke Pekalongan, karena libur Natal dan Tahun Baru.
”Kalau produksi menurun memang iya, namun penjualan justru meningkat, jika dibandingkan bulan sebelumnya,” tutur Amat Antono. (thd/isk/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.