Dilarang Datangkan Unggas Korban Banjir

311

Dari Pati, Kudus, Jepara

KENDAL—Mengantisipasi penular­an virus flu burung, Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebundan dan Kehutanan Kabupaten Kendal melarang peternak di Kendal mendatangkan unggas dari Pati, Kudus, dan Jepara.
Menurut Kabid Peternakan DP3K Kabupaten Kendal, Eko Tri Jatmiko, unggas asal ketuga daerah tersebut yang hingga kini masih terendam banjir, memiliki risiko tinggi mengidap penyakit flu burung. “Peternak harus waspada karena banjir. Bisa jadi unggas asal daerah tersebut terkena flu burung,” katanya kepada Radar Semarang, kemarin.
Namun Eko menambahkan, jika peternak tetap mendatangkan unggas dari ketiga daerah itu, harus bisa memastikan unggas tersebut dalam keadaan sehat dan tidak terkena virus flu burung. ”Kalau masih ambil unggas dari sana, ya harus disertai surat keterangan sehat yang dikeluarkan oleh dinas terkait di daerah tersebut. Ini untuk mewaspadai adanya unggas yang dikirim dalam keadaan sakit,” katanya.
Dirinya juga menambahkan bahwa cuaca ekstrim yang terjadi pada awal tahun 2014 ini bisa menyebabkan unggas milik peternak terinfeksi virus flu burung. Sedangkan untuk mengantisipasi penyebaran virus mematikan yang bisa menular pada manusia, imbuhnya, DP3K Kabupaten Kendal melakukan langkah preventif berupa sosialasi terhadap penyebaran virus flu burung ke tingkat kecamatan hingga desa yang kemudian diteruskan kepada para peternak.
”Kami sudah memberikan informasi kepada pemerintah kecamatan dan desa. Selain itu, kami juga akan melakukan penyemporotan dan vaksinasi kepada unggas milik para peternak secara gratis,” ungkapnya.
Menurutnya ada sekitar 3 kecamatan dari 20 kecamatan di Kendal yang rawan terhadap penyebaran flu burung. Yakni Kecamatan Rowosari, Patebon dan Kecamatan Kendal. ”Tiga kecamatan itu endemik flu burung. Bahkan, tahun lalu penyakit tersebut merebak di Kelurahan Jotang dan Kelurahan Jetis,” bebernya.
Dirinya menambahkan, penyebaran virus flu burung biasanya lebih banyak menyerang ayam kampung milik warga. Hal ini karena tidak mendapatkan vaksin. ”Yang paling berisiko ya ayam kampung milik warga, karena tidak dapat vaksin. Selain itu, perawatannya tidak begitu diperhatikan,” ujarnya.
Dirinya berpesan kepada para peternak dan warga agar selalu waspada, dan siaga. Selain itu, jika ada temuan ayam yang mati bisa segera melaporkan kepada DP3K Kendal. ”Kalau ada temuan, kami bisa segera memberikan vaksin gratis pada unggas milik para peternak dan milik warga,” katanya. (den/ida)