Kematian Ibu Hamil Tinggi

307

Kota Semarang Peringkat Lima
PLEBURAN – Selama 2013, tercatat setidaknya ada 29 ibu hamil di Kota Semarang yang meninggal dunia. Tingginya jumlah kematian ibu hamil ini menjadi permasalahan tersendiri bagi kota yang notabene sebagai pilotting project provinsi Jawa Tengah. Oleh karena itu, perlu adanya upaya konsolidasi antar elemen masyarakat untuk bersama-sama mengatasi masalah tersebut. Salah satunya adalah melalui ormas masyarakat.
Hal tersebut diungkapkan ketua Forum Masyarakat Madani (FMM) Peduli Kesehatan Ibu dan Anak (FMM-KIA) Ahmad Jawahir di sela-sela kegiatan pertemuan orientasi kerja pengurus dan penyusunan program kerja tahun pertama FMM-KIA yang diselenggarakan di gedung Dakwah PW Muhammadiyah Semarang, Sabtu (8/2). FMM-KIA merupakan wadah komunikasi antar organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah, Aisyiyah, Ikatan Bidan Indonesia, Ikatan Penyuluh KB, PGRI, PMI, dan lain sebagainya.
Mengutip data dari Dinas Kesehatan Kota Semarang, Jawahir menyebutkan bahwa Kota Semarang menduduki peringkat kelima di Jawa Tengah dengan tingkat kematian ibu hamil yang tinggi setelah Brebes, Tegal, Banyumas, dan Cilacap. Oleh karena itu, diharapkan kegiatan ini dapat berjalan dengan maksimal dalam memberikan sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat.
“Selain memberikan pendampingan, kami juga menggandeng pemerintah sekaligus memberikan rekomendasi dan advokasi dalam menjalankan tugas secara bersama-sama,” imbuhnya.
Langkah konkrit yang akan dilaksanakan FMM-KIA, lanjut Jawahir, adalah mendata ulang segala kegiatan dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mengetahui ilmu kesehatan. Selain itu, juga melakukan pendampingan kepada bidan yang bekerja di posyandu dan rumah sakit baik negeri maupun swasta sekaligus mengevaluasinya.
Sementara itu, Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Semarang Ahmad Jumai yang juga anggota FMM menambahkan, sebagian dari masyarakat masih banyak yang belum mengetahui tentang prosedur seperti jampersal. Akhirnya mereka lari ke dukun. “Melalui forum ini, kami ingin menekankan sosialiasi melalui potensi-potensi yang ada. Misalnya pengajian, kumpulan PKK, RT, RW, dan lain sebagainya,” imbuhnya.
Selain itu, lanjut Jumai, keterlibatan pemerintah juga perlu dilakukan. Sehingga terjadi sinergitas antara keduanya. Semua elemen masyarakat harus serius dalam upaya menurunkan risiko kematian ibu hamil. (fai/ton)