Warga Tuntut Makam Dibongkar

334

Khawatir untuk Perbuatan Sirik
KENDAL – Ratusan warga Desa Gempolsewu, Kecamatan Rowosari, Kamis (13/2) siang datang ke Kantor Kecamatan Rowosari guna menuntut agar pihak Kecamatan membongkar sebuah makam yang dibangun di Masjid At Taqwa. Tuntutan ini dilakukan lantaran warga menganggap pembangunan makam itu akan dijadikan tempat maksiat atau dapat menimbulkan perbuatan sirik lantaran makam tersebut sebelumnya tidak ada dan dianggap palsu.
Menurut informasi yang dihimpun, sebelumnya di kawasan Masjid At Taqwa Desa Gempolsewu tidak ada makam ataupun petilasan, namun tiba-tiba sekita 3 bulan lalu dibangun sebuah makam yang diyakini adalah makam Wali Abu Mukhodim, salah satu tokoh penyebar Islam di Kecamatan Rowosari. Makam dibangun menggunakan dana APBD Kabupaten Kendal senilai Rp 46 juta. Karena dikhawatirkan bisa menjadi tempat maksiat, maka warga setempat menuntut agar makam yang tiba-tiba dibangun dan tak jelas asal-usulnya itu harus dibongkar. Untuk mengantisipasi perbuatan anarkis warga, pihak Kecamatan melakukan mediasi dengan disaksikan Muspika setempat
Yahya, 66, ahli waris tanah masjid yang telah di waqafkan mengatakan, tanah tersebut adalah tanah milik kakek buyutnya yang telah di waqafkan. Menurut Yahya, dahulu kakek buyutnya adalah kades pertama di Desa Gempolsewu yang bernama Lastro. Karena itu dirinya tidak yakin ada makam di areal tanah nenek moyangnya. Karenanya dia meminta agar makam dibongkar. “Nenek moyang saya dulu pemuka agama di sini, di sekitar masjid dulunya sawah. Sedangkan Masjid sudah dibangun sejak 1883 dan itu tidak ada makamnya. Jadi kami minta dibongkar. Kita juga khawatir itu nanti malah muncul kesyirikan,” katanya.
Sementara sekretaris Takmir Masjid Rudi Mujihanto mengaku sebelum pembangunan makam dilakukan, pihak takmir masjid sudah melakukan rapat. Dalam rapat tersebut diyakini bahwa dahulu, di tempat tersebut ada makam namun tidak terawat. Sehingga untuk menghormatinya, dibangunlah sebuah makam dengan dana APBD Kendal senilai Rp 46 juta. “Seluruh anggota takmir, sudah rapat. Hasilnya kami meyakini dulu disitu ada sebuah makam yang tak terurus,” ujarnya.
Sementara Kades Gempolsewu, Heri Mardiyanto, juga meyakini adanya sebuah makam wali di lokasi yang kini didirikan makam. Dirinya juga mengakui, sekitar tahun 1970, lokasi pembangunan makam saat ini adalah sebuah rawa. “Dulunya memang rawa, tapi ada makam yang tidak terawat,” timpalnya.
Supriyadi, koordinator warga yang menolak adanya pembangunan makam mengaku akan menempuh jalur hukum lantaran dalam mediasi yang dilakukan tidak menemukan titik temu. Walaupun emosi, dirinya bersama warga lain yang melakukan penolakan pembangunan makam menjamin tidak ada aksi anarkisme sebagai bentuk kekecewaan. (den/ric)