Petani Ikan Kurangi Produksi

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

MUNGKID—Meski tak berdampak signifikan, sejumlah petani di Kabupaten Magelang memilih untuk mengurangi jumlah ikan yang dibudidayakan. Mereka trauma erupsi 2010 yang memicu kematian ikan secara masal.
Pantauan koran ini, tidak sedikit petani yang mengurangi populasi ikan dalam kolamnya, dengan memindahkannya ke kolam lain yang kualitas airnya lebih bersih. ”Ini penting agar tidak ada kematian masal. Karena, abu vulkanik membuat
kadar asam dalam air meningkat. Jika kadar asam dalam air tinggi, akan mengakibatkan lendir dalam ikan berkurang,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Magelang, Fidil Rahmad Senin (17/2).
Jika sampai itu terjadi, lanjut Fidil, dampaknya daya tahan ikan terhadap penyakit menurun drastis. Di sisi lain, nafsu makan ikan juga akan berkurang.
”Kalau daya tahan dan napsu makan turun, tentu mengkawatirkan. Bisa-bisa terjadi kematian massal. Karena itu, perlu diantisipasi. Terpenting, air masuk dalam kolam harus diperbesar. Jika perlu, populasi ikan dalam kolam juga harus dikurangi, agar kebutuhan oksigen semua ikan terpenuhi. Karena dengan tingkat keasaman air dalam kolam tinggi, oksigen dalam air berkurang,” terangnya.
Meski demikian, dampak abu vulkanik Gunung Kelud kemarin, tidak menyebabkan kematian ikan secara masal.
”Sejauh ini, kami belum mendengar ada teman-teman pembudidaya ikan yang melapor ikannya mati. Tidak se­perti saat erupsi Gunung Merapi 2010 lalu. Yang jelas, tingkat keasaman yang terkandung dalam abu vulkanik Gunung Kelud ini, hampir mendekati normal antara 6-8 pH. Meski demikian, kami belum menganalisa lebih lanjut dalam laboratorium,” jelasnya.
Sementara Sultoni, pembudidaya ikan warga Menayu, Kecamatan Muntilan mengatakan sejauh ini pengaruh abu vulkanik memang belum signifikan. ”Hampir tidak ada yang mati. Hanya saja, kami terpaksa harus mengganti air dan mengurasnya,” imbuhnya. (vie/lis)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -