Petani Sayur Terancam Merugi

337

MUNGKID—Sejumlah petani di Kabupaten Magaelang terancam merugi akibat guyuran hujan abu vulkanik Gunung Kelud. Sayuran akan mati jika dalam waktu tertentu tidak diguyur air hujan.
Direktur Pengambangan Agribisnis, PT Paskomnas, Soekam Parwadi, mengatakan, hujan abu Kelud dapat merusak tanaman lereng Merapi-Merbabu, serta daerah lain yang tertimpa hujan abu. ”Melihat lebatnya hujan abu vulkanik akibat letusan Gunung Kelud, diprediksi banyak tanaman hortikultura yang rusak. Bahkan kerusakannya bisa lebih besar dibanding ekses erupsi Merapi 2010,” katanya, kemarin.
Dia mengemukakan, akibat erupsi Merapi 2010 harga sayur terutama cabai mencapai lebih dari Rp 100 ribu/kg.
Menurut dia, hujan abu Kelud cukup tebal jatuh di daerah Magelang, Magelang, Purworejo. Setelah abu vulkanik menutup tanaman tidak segera disusul hujan air yang deras hingga lima jam, dikhawatirkan tanaman berdaun lunak seperti cabai, tomat, kubis menjadi rusak berat.
Khususnya tanaman sayuran yang ada di radius 40 km dari pusat letusan, akan rusak berat. Kecamatan Kepung, Pare di Kediri yang merupakan sentra tanaman cabiai dan sayur. Begitu juga tanaman cabai, sayur lain dan buah-buahan dikawasan Blitar, Nongkojajar – Pasuruan, Pujon – Kota Batu yang juga merupakan kawasan hortikultura dapat mengalami kerusakan.
Soekam mengingatkan, dampak yang perlu diwaspadai adalah berkurangnya pasokan sayur ke pasar induk di Jawa Timur. Untuk itu Paskomnas mengharapkan para mitra pemasok yang selama ini memasok sayur dan buah dari Jawa Tengah ke Pasar Induk Tanah Tinggi, sebagian dialihkan ke Pasar Induk Osowilangun Surabaya (PIOS). (vie/lis)