Warga Tuntut Jalan Disemprot

299

TEMANGGUNG—Janji Pemerin­tah Kabupaten Temanggung me­la­kukan penyemprotan jalan membersihkan guyuran abu Gunung Kelud pada akhir pekan lalu belum terealisasi. Masyarakat di daerah penghasil tembakau mengaku kecewa dengan janji penyemprotan tersebut lantaran kondisi jalanan dalam kota dipenuhi abu tebal yang mengganggu pengguna jalan.
“Saya baca di koran, katanya mau dis­emprot pas hari Sabtu kemarin. Tapi sampai sekarang tidak ada penyemprotan, padahal tidak hujan. Kalau di kecamatan lain su­dah hujan, tapi di dalam kota be­lum hujan dan abunya masih te­bal,” tuntut Rumadi, 40, warga Ke­lurahan Temanggung, Kecamatan Temanggung.
Menanggapi keluhan warga tersebut, DPRD Kabupaten Temanggung mendesak agar Pemkab segera melakukan penyemprotan jalan protokol. Sebab, penyemprotan merupakan hal yang harus dilakukan terutama di kawasan pendidikan, pasar dan tempat umum lainnya.
“Saya dapat informasi yang sudah menyemprot itu Polres Temanggung dengan mobil water canon. Pemkab sendiri belum,” kata anggota FPKB DPRD Temanggung, Umi Tsuwaibah.
Ia menuturkan, sejak hujan abu pada Jumat kemarin, belum ada petugas dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU), pema­dam kebakaran maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melakukan pembersihan di jalan-jalan protokol.
BPBD diminta segera melakukan pembersihan abu vulkanik akibat letusan gunung Kelud tersebut. Karena menurutnya, abu tersebut sangat menganggu aktivitas warga. “Saya sudah beberapa kali menerima keluhan dari warga, katanya abu di jalan-jalan protokol belum dibersihkan,” katanya.
Selain itu katanya, jika dibiarkan terlalu lama, abu vulkanik bisa menganggu kesehatan masyarakat, abu ini bisa menyebabkan penyakit dan sesak nafas. “Harus segera dibersihkan, agar efeknya tidak berkepanjangan,”pintanya.
Ketika pihaknya mengkonfirmasi BPBD Temanggung, mendapatkan jawaban bahwa BPBD sudah melakukan penyemprotan, namun hanya terbatas di dalam gedung sekretariat daerah. “Katanya sudah tapi hanya di sana saja. Jalanan tidak,” terangnya.
Sementara itu, sektor pariwisata di Kabupaten Temanggung terdampak letusan Gunung Kelud, Salah satunya adalah Pikatan Water Park yang terpaksa ditutup karena abu mempengaruhi air kolam renang.
Kepala Unit Pikatan Water Park, Deni Firmansyah, 32, mengatakan, abu Kelud mulai tampak memenuhi seluruh area wisata air ini sejak Jumat (14/2). Setelah dipertimbangkan, pihak manajemen memutuskan menutup sementara dan baru Minggu (16/2) dibuka kembali . ”Kita mulai tutup Jumat dan buka kembali Minggu (16/2). Secara otomatis selama tutup kita tidak ada pemasukan. Ini karena situasinya memang tidak memungkinkan untuk dibuka, airnya keruh kehitaman tersiram abu,” katanya.
Kasi Keuangan dan Pemasaran Pikatan Water Park, Indriyanti, 36, menuturkan, selama dua hari ditutup, Pikatan Water Park merugi sekitar Rp 20-an juta. Perhitungannya, pada keadaan normal di hari Jumat saja biasanya ada 300-an pengunjung dan bisa berlipat sampai 10.000 pengunjung pada hari Sabtu Minggu, dengan tiket masuk RP 10.000-Rp 12.000/orang.
Untuk menormalkan kembali kondisi tempat wisata tersebut sebanyak 30 orang dan dibantu dari PDAM Tirta Agung membersihkan abu di lokasi kolam dan lantai dekat kolam. Petugas operator kolam, Cundoko, 32, mengatakan, abu vulkanik Gunung Kelud lebih pekat dibanding abu letusan Merapi pada 2010 lalu. Sampai kemarin petugas masih melakukan upaya pembersihan, dan untuk kolam di koras setiap sore hari. (zah/lis)