Pupuk Bersubsidi Langka

405

SMG 20140423.inddMUNGKID—Sejumlah petani di Kabupaten Magelang mengeluhkan sulitnya mendapatkan pupuk bersubsidi dalam beberapa bulan terakhir. Sehingga banyak petani yang harus kerja ekstra membuat pupuk sendiri.
Menurut Sodikin, salah seorang pengecer pupuk di Kecamatan Sawangan, mengatakan, kelangkaan pupuk saat ini terjadi pada urea, phonska, ZA, dan petroganik.
Setelah sebelumnya sempat langka pada akhir tahun 2013, menurut dia, pasokan urea akhirnya kembali lancar pada Januari-Februari 2014. Namun, mendadak pada Maret 2014 hingga sekarang, urea kembali menghilang di pasaran. Pada kondisi normal, pasokan urea yang diterima Sodikin mencapai delapan ton per bulan. Dalam dua bulan terakhir, hal serupa juga terjadi pada petroganik. ”Padahal, pada pengalaman sebelumnya, saat urea langka, petani biasanya akan beralih pada Petroganik,” ujarnya, kemarin.
Dia mengatakan dalam dua bulan ini, ZA dan phonska juga sulit diperoleh. Jika biasanya bisa kapan saja menambah pasokan, maka saat ini, pasokan baru diterima paling cepat dua minggu setelah meminta suplai pada distributor.
Hal serupa juga dirasakan oleh Siti Matonah, salah seorang pengecer pupuk di Kecamatan Muntilan. Kelangkaan urea yang terjadi saat ini, membuatnya terpaksa berkali-kali mengecewakan pembeli.
”Karena sulit memastikan kapan menerima pasokan, banyak titipan uang untuk pemesanan urea terpaksa saya kembalikan kepada pelanggan,” ujarnya. Menurutnya, kelangkaan urea ini sudah berlangsung sekitar enam bulan terakhir. Biasanya, saat kondisi normal, Matonah mengatakan, dirinya bisa menerima pasokan tiga hingga lima zak urea per hari. Satu zak berisi 50 kg urea. Namun, pada saat sekarang, untuk mendapatkan dua hingga tiga zak urea saja, dia bisa menunggu hingga tiga bulan.
Asnawi, salah seorang petani sayuran di Desa Gondowangi, Kecamatan Sawangan, mengatakan, setelah berbulan-bulan dipusingkan oleh kelangkaan urea, dia pun akhirnya memutuskan memakai pupuk kandang dari kotoran sapi. ”Di tengah kelangkaan pupuk seperti sekarang, saya khawatir harga urea nantinya juga melambung, dan makin tak terbeli. Saya pun akhirnya memutuskan memakai pupuk kandang saja,” ujarnya.
Baik dengan memakai pupuk kandang maupun pupuk kimia, Asnawi, mengatakan, dia tetap harus tetap memakai obat-obatan kimia untuk mengusir segala hama penyakit tanaman. Penggunaan obat-obatan tersebut tetap saja menguras biaya. Untuk 1.000 meter persegi tanaman cabai misalnya, dihabiskan biaya modal lebih dari Rp 3 juta. Namun, karena serangan begitu banyak hama, seringkali dirinya justru merugi.
Hal senada dirasakan petani di Temanggung. Keberadaan pupuk ZA yang sangat dibutuhkan petani menghilang di pasaran. Akibatnya, para petani terpaksa membeli pupuk pengganti berupa pupuk vertila yang harganya jauh di atas harga pupuk ZA.
Untuk memperoleh ZA sesuai kebutuhan, para petani harus mencari di luar kota, itupun persediaan belum tentu ada.
Sehingga untuk menghemat ongkos produksi, para petani terpaksa harus mengganti dengan jenis pupuk veritla yang harganya tinggi. ”Harganya lebih mahal, tetapi memang kami sangat butuh jadi kami beli,” kata Wuwuh, 33, petani tembakau di Desa Tlahab, Kecamatan Kledung.
Untuk menanam 10 ribu batang tembakau, ia harus menghabiskan sebanyak tujuh kuintal pupuk ZA dan tiga kuintal pupuk vertila. Musim tanam yang baru saja dimulai membutuhkan pupuk sebagai penguat agar kualitas tembakau dapat optimal sehingga tahan terhadap penyakit tanaman. ”Sampai sekarang kami masih sulit mendapatkan,” akunya.
Sejauh ini, pihaknya hanya mampu mengumpulkan sebanyak 3,5 kuintal pupuk ZA yang diperoleh dari Parakan, Temanggung dan dari Kabupaten Wonosobo. Harganya juga naik dari harga biasanya. Sebelumnya, harga pupuk ZA Rp 87 ribu per sak, namun sejak kelangkaan naik menjadi Rp 95 ribu per sak kemasan 50 kilogram. (vie/zah/lis)