Jumlah Petugas dan Tahanan Tak Imbang

324

MAGELANG—Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Kota Magelang tak sebanding dengan penghuninya. Karena itulah, pihak lapas berencana meminta penambahan petugas.
Kasi Administrasi Kamtib Lapas II A Kota Magelang, Slamet Priyono menyebutkan bahwa Lapas Kelas IIA Magelang ini dihuni sebanyak 519 warga binaan. Terdiri dari 500 tahanan laki-laki, 13 wanita, dan 6 anak-anak.
“Dari jumlah tahanan sebanyak itu, hanya dijaga oleh petugas sebanyak 98 orang. Itu pun dibagi ke dalam beberapa sift,” katanya.
Menurutnya, jumlah ini tentu tidak ideal. Sehingga pemantuan terhadap penghuni lapas dilaksanakan dengan ekstra. Ke depan, pihaknya berencana melakukan penambahan personel. ”Usulannya ke Kemenkum HAM,” kata dia.
Sementara itu, dalam rangka peringatan HUT Lapas Indonesia ke-50 pihaknya menggelar kegiatan sosialisasi atau penyuluhan tentang bahaya infeksi HIV/AIDS kepada seluruh warga binaan, termasuk petugas di lingkup tahanan.
”Lapas dinilai sebagai tempat yang rentan terhadap infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/AIDS. Sebab, masih ba­nyak warga binaan dari luar yang masih menjalani pergaulan bebas, kemudian membawa virus mematikan itu ke dalam lapas,” katanya.
Sosialisasi langsung diberikan oleh Dinas Kesehatan Ko­ta Magelang, Komisi Penang­gu­langan AIDS (KPA) Kota Ma­ge­lang, Kesbangpolinmas dan LSM Be Positive. Sosialisasi ini sebagai upaya antisipasi penularan HIV/AIDS antar warga binaan di lingkungan Lapas IIA Kota Magelang. ”Setelah sosialisasi ini, akan dilakukan tes darah bagi seluruh warga binaan. Tes dilakukan gu­na mengetahui apakah ada warga yang terkena HIV/AIDS atau tidak,” katanya.
Apabila ditemukan ada warga yang terjangkit, kata Slamet, pihaknya bersama KPA akan melakukan pendampingan dan pengobatan kepada yang bersangkutan. Hal ini, sekaligus memberikan motivasi kepada penderita agar tidak berkecil hati telah menderita penyakit ini.
”Sekitar tahun lalu, kami juga mendapati dua warga binaan yang terkena HIV/AIDS. Keduanya kami dampingi dan obati sampai kemudian keduanya bebas. Kalau sekarang, kami belum mengetahui apakah ada penderita atau tidak,” ungkapnya.
Sosialisasi tidak hanya dilakukan setiap HUT, kata Slamet, setiap seminggu sekali ada dokter khusus yang mengunjungi warga binaan untuk memeriksa kesehatan pada umumnya dan HIV/AIDS.
Sementara itu, dalam rangka peringatan HUT ini pihaknya juga menggelar sejumlah kegiatan lain. Di antaranya seperti aneka lomba olahraga dari tenis lapangan, tenis meja, hingga catur. Serta kegiatan seni budaya hasil kreasi warga binaan.
”Semua kegiatan ini melibatkan juga para petugas tahanan. Tujuannya agar antara para penjaga dan binaan terjalin keakraban serta komunikasi yang baik. Hal ini sekaligus merupakan upaya persuasif yang dilakukan penjaga terhadap para binaan, sehingga proses pembinaan berhasil,” ungkapnya. (vie/ida)