Caleg DPRD Jateng Habiskan Rp 4 Miliar

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

GEDUNG BERLIAN – Praktik politik uang yang marak pada pemilu legislatif (pileg) 2014 membuat prihatin banyak pihak. Termasuk di antaranya anggota dewan yang kembali berlaga dalam pemilu ini.
Wakil Ketua DPRD Jateng Bambang Sadono mengatakan kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan saja. Harus ada sebuah upaya keras untuk melakukan perubahan agar ke depan pemilu bisa lebih baik. Politisi Partai Golkar yang pada pileg 2014 ini terpilih sebagai anggota DPD RI dari Jateng ini mengaku tidak tahu pasti penyebab tingginya partisipasi masyarakat dalam pemilu. Ketika ditanya apakah ada korelasi dengan adanya praktik politik uang, Bambang menyatakan, kemungkinan itu sangat besar.
”Praktik money politics, utamanya untuk caleg DPR/DPRD memang sangat tinggi. Sebetulnya politik uang tidak akan marak jika semua caleg punya komitmen yang sama untuk tidak melakukannya,” paparnya.
Namun sepertinya, ada caleg yang khawatir, kalau tidak melakukan, nanti caleg lain ada melakukan. Untuk mendapatkan suara akhirnya memilih melakukan politik uang. Dikatakan Bambang, untuk DPD RI, praktik politik uang relatif lebih kecil. Sebab, butuh banyak uang bagi DPD untuk melakukan politik uang. ”Bayangkan, calon DPD harus mendapatkan suara satu juta. Lantas berapa miliar uang yang harus disiapkan,” imbuhnya.
Wakil Ketua Komisi C DPRD Jateng Masruhan Samsurie juga mengatakan, pemilu 2014 ini memang benar-benar berlangsung tidak baik, tidak baik bagi caleg, masyarakat dan juga penyelenggaran pemilu. Banyak praktik politik uang namun semuanya berjalan biasa semua dan tidak ada yang menindak. ”Keberhasilan seseorang menjadi pemenang, lebih banyak ditentukan karena faktor uang. Pemilu ini pemilu transaksional. Sudah tidak ada pendidikan demokrasi dari pemilu ini,” katanya.
Menurut dia, tidak sedikit caleg yang lebih memilih melakukan politik transaksional untuk mendapatkan suara, yaitu dengan membagikan amplop pada malam coblosan atau sebelum coblosan pada masyarakat. ”Ini tidak wajar. Caleg DPRD Jateng sampai mengeluarkan Rp 1 miliar lebih. Bahkan ada yang Rp 4 miliar. Padahal gaji yang didapat tidak sebanyak itu,” katanya. (ric/ton/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -