Kecanduan Game, Anak jadi Agresif

331

WONOSOBO – Dampak teknologi modern utamanya game, bisa membikin anak kacanduan. Apabila sampai kecanduan, bisa mengubah perilaku anak. Salah satunya bisa membuat anak agresif. Apalagi teknologi game saat ini dengan mudah didapatkan karena disematkan pada smartphone atau komputer dan tablet.
“Ada beberapa pengaruh terhadap anak ketika sudah kecanduan main game. Salah satunya bisa berperilaku agresif,” kata Harrista Adiyati, Mpsi, psikolog RSUD Setjonegoro Wonosobo, dalam seminar parenting, di gedung Korpri akhir pekan lalu  (3/5) yang diadakan oleh PAUD-TK Universal Agape.
Dalam seminar yang diikuti oleh sebagian orang tua dan pendidik, bertema pengaruh teknologi modern terhadap perkembangan anak, Harrista mengatakan, apabila sampai kecanduan game, bisa menyebabkan anak mengabaikan kebutuhan lain.
“Misalnya saja, saat jam makan, anak kecanduan main game, ketika diingatkan akan mengabaikan, atau bahkan marah,”katanya.
Dampak dari kecanduan main game, lanjut Harrista, juga bisa menyebabkan anak kurang sehat, memicu masalah emosi, mempunyai obsesi, serta mendorong ketidakjujuran.
“Anak juga kadang tidak mampu mengendalikan diri, misalnya saja setelah main game perang. Anak bisa menirukan gerakan seperti memukul dan menendang kepada orang lain,” tuturnya.
Selain mempunyai dampak negatif, Harrista mengatakan bermain game bagi anak juga mempunyai dampak positif. Di antaranya pembelajaran secara visual. Anak bisa mengenal warna dan angka, mengasah logika sederhana, serta mengasah motorik halus.
“Untuk bisa memanfaatkan teknologi, maka orang tua harus senantiasa mendampingi dan memperhatikan perkembangan anak,” tuturnya.
Ditambahkan, untuk memastikan bahwa teknologi bisa menjadi sarana pembelajaran perkembangan anak. Orang tua harus memahami pola perkembangan anak. Selain itu, harus belajar mengenai pemanfaatan teknologi sebagai media pendukung pembelajaran anak.
“Salah satunya orang tua harus mampu mengendalikan anak. Jangan sampai kecanduan. Karena bisa berdampak pada perkembangan kesehatan, emosi dan otak anak,” pungkasnya. (ali/lis)