Kurang Lahan, PG Sragi Merugi

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KAJEN-Pabrik Gula (PG) Sragi, Kabupaten Pekalongan mengalami kerugian hingga miliaran rupiah dalam setahun. Hal ini karena kekurangan lahan tanaman tebu, sehingga tidak bisa memanfaatkan 365 hari kerja selama setahun. PG Sragi hanya bisa memanfaatkan waktu selama 142 hari kerja saja.
Kepala Administratur PG Sragi, Teguh Agung Tri Nugroho, menjelaskan bahwa pada 2014 ini, PG Sragi hanya memproduksi gula sebesar 3,4 juta kuintal, selama masa giling 142 hari kerja. Produksi tersebut, dengan estimasi rendemen giling 7,91 persen dari luas lahan yang dikelola seluas 550 hektare.
“Harusnya luas lahan PG Sragi lebih dari 550 hektare, agar tidak merugi setiap tahun,” jelas Tri Nugroho dalam acara pesta giling tebu, Senin (5/5) siang kemarin, di PG Sragi, Desa/Kecamatan Sragi, Kabupaten Pekalongan.
Meski pihak manajemen PG Sragi, katanya, telah melakukan transparasi soal penilaian rendemen gula pada tebu, namun minat petani untuk menanam tebu di Kabupaten Pekalongan masih rendah.
Menanggapi hal itu, Ketua Dewan Pembina Asosiasi Petani Tebu, Kabupaten Pekalongan, Haji Slamet mengungkapkan kurang berminatnya petani padi beralih ke tebu, karena kurang menjanjikan. Terlebih kondisi cuaca pada tahun ini, sangat berbeda dengan tahun sebelumnya, sehingga mempengaruhi kualitas tebu.
”Keadaan tebu semakin parah, ketika hujan lebat pada awal tahun lalu. Bahkan sebagian besar areal tebu tergenang banjir, akibatnya sistem pengakaran membusuk,” kata Slamet yang hadir di dalam acara pesta giling tebu.
Sebenarnya, pihaknya berharap pada musim tebang sekitar bulan Juli-Agustus nanti, harga gula bisa naik, sehingga petani bisa mengembalikan modal. ”Kalau bulan Juli-Agustus nanti, harga gula naik. Maka petani tebu akan untung, begitu juga sebaliknya,” tegas Slamet.
Kendati begitu, Bupati Pekalongan, Amat Antono mengharapkan segenap elemen turut menjaga kekompakan dengan pola kemitraan yang saling menguntungkan dan petani padi mau beralih ke tebu. “Ikatan yang bisa saling menguatkan antara pengusaha dan petani tebu adalah untuk berkepentingan menyejahterakan masyarakat. Karena itu, mari kita evaluasi bersama,” tutur Amat Antono. (thd/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -