Tekankan Pertanian Sehat, Manfaatkan Limbah untuk Penyubur

330

Belajar di Sekolah Lapang Pager Bumi, Dusun Kongsi, Desa Bumirejo, Wonosobo

Pola pertanian di Wonosobo, beberapa tahun terakhir banyak yang menggunakan obat penyubur dan pemusnah hama pestisida kimiawi. Hal ini, membuat sejumlah petani di Dusun Kongsi, Desa Bumirejo Kecamatan Mojotengah, Wonosobo galau. Kini mereka mengembangkan sekolah lapang pertanian organik, mendasarkan pada pertanian sehat. Seperti apa?

SUMALI IBNU CHAMID, Wonosobo

Puluhan ibu dan bapak serta deretan anak muda, siang itu tampak memadati saung yang berada di tengah ladang. Di ruangan itu, mereka duduk melingkar, di dinding sebelah utara, tertempel kertas. Salah seorang, tengah sibuk menulis, mengidentifikasi usulan, dari tiap orang yang berada di ruangan berukuran sekitar 4 x 8 meter itu.
Puluhan warga itu, tengah membahas tentang rencana penanaman. Pada kertas tertuang beberapa nama tanaman, di antaranya cabai, kol dan luncang. Pada bagian kertas sebelahnya, tertuang resep pembuatan obat penyubur tanaman. Di bawah tulisan resep itu, ada beberapa nama barang, seperti tetes tebu, susu sapi murni, telur bebek, terasi dan limbah tahu.
“Kami sedang membahas rencana penanaman untuk musim ini. Hari ini, baru selesai tanam cabai,” kata Mustofa, pria yang memimpin diskusi itu, kepada wartawan Jawa Pos Radar Semarang.
Mustofa kemudian melanjutkan diskusi, lantas membagi tiap warga, untuk mencari barang-barang yang dibutuhkan tersebut, lengkap dengan jumlah yang dibutuhkan.
“Resep yang akan kami buat ini, merupakan resep pembuatan vitamin atau penyubur tanaman, untuk tanaman cabai dan luncang,” katanya.
Mustofa mengatakan, dia merupakan Ketua Kelompok Pager Bumi, sebuah kelompok berisi para petani yang mengadakan sekolah lapang untuk pendidikan menanam yang sehat dengan pola organik.
“Kami sudah berjalan dua tahun, tepatnya sejak tahun 2012 lalu,”ujarnya.
Dalam melakukan proses belajar, kata Mustofa, kelompok Pager Bumi, selalu melakukan perencanaan sebelum menanam. Selain mempertimbangkan musim, juga sebagai media transformasi mengenai pertanian organik.
Dalam proses pembelajaran, Mustofa mengaku didampingi oleh Zam Zaeni dari Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP). Selama dua tahun ini, Mustofa dan puluhan warga lain mengaku mendapatkan banyak manfaat. Selain hasil panen pertanian lebih sehat dikonsumsi, juga mendapatkan ilmu dalam menjaga lingkungan.
“Hasil panen, selama ini kami konsumsi sendiri, karena lebih enak dan sehat. Kami belum memikirkan untuk menjual,” tuturnya.
Dalam proses pembelajaran, kelompok Pager Bumi menggunakan lahan seluas 2000 meter yang berada di sebelah timur Dusun Kongsi. Di antara lahan itu, dibangun kandang sapi sebagai peternakan, gudang proses pembuatan pupuk dan penyubur tanaman dan satu bangunan berupa saung untuk diskusi.
Zam Zaeni dari LPTP menyampaikan, dalam pembelajaran selama dua tahun ini, anggota kelompok terus bersemangat. Karena pola pendekatan pelatihan, mengedepankan pada potensi desa.
Dia mencontohkan, dalam pembuatan pupuk, warga diajak mengelola sampah organik yang ada di lingkungan warga, dibuat menjadi pupuk. Kemudian untuk vitamin penyubur, meramu sendiri menggunakan bahan baku yang ada di dusun itu. Misalnya saja limbah tahu, karena di Dusun Kongsi banyak industri tahu, warga diajak memanfaatkan limbah yang mempunyai kandungan nitrogen itu.
“Tiap barang berupa limbah atau barang lain yang ada di desa, kami ajak warga mengenali kandungannya. Setelah itu kami ramu bersama. Sehingga masyarakat tahu dari prosesnya,” paparnya.
Untuk menghindari pencemaran lingkungan, utamanya dalam membuat obat pemusnah hama (pestisida), Zam Zaeni mengajak warga tidak menggunakan obat pestisida sintetis atau mengandung kimiawi. Namun warga dikenalkan cara membuat obat pestisida nabati dan hayati, menggunakan bahan yang ada di kampung itu. Salah satunya, saat ini tanaman warga sedang diserang jenis ulet kepompong, yang bisa memakan akar tanaman hingga kedalaman 1,5 meter.
“Kami sudah temukan obat pemusnah, dengan membuat metenesium sejenis jamur yang bisa beracun saat dimakan ulet. Hasilnya, ulat musnah tanpa pestisida sintetis,”katanya.
Zam Zaeni mengatakan, lahan seluas 2000 meter berikut bangunan saung dan tempat pengelolaan sampah, merupakan bantuan dari program CSR PT Aqua Tirta Investama. (*/lis)