12 Shelter BRT Dibongkar

282

BALAI KOTA — Sebanyak 12 shelter Bus Rapid Transit  (BRT) Trans Semarang dibongkar menyusul adanya pekerjaan fisik perbaikan dan pelebaran Jalan Siliwangi. Agar tidak mengganggu pelayanan penumpang BRT, untuk sementara dipasang shelter portabel.
Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang Agus Harmunanto mengatakan, 12 shelter BRT yang dibongkar berada di koridor II rute Mangkang – Penggaron. Sebab, pelebaran dan perbaikan jalan dimulai dari Jalan Siliwangi hingga Jalan Walisongo, Tambakaji, Ngaliyan.
”Pembongkaran hanya dilakukan sementara, nanti akan dibangun lagi, setelah pekerjaan jalan selesai. Sebagai ganti sementara didirikan shelter portabel (bisa dipindah), jadi pelayanan penumpang tidak terganggu,” ujarnya kepada Radar Semarang kemarin (6/5).
Menurut Agus, perbaikan dan pelebaran jalan itu dilaksanakan oleh pemerintah pusat. Tetapi pembongkaran dan pembangunan kembali shelter tetap menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Semarang. Pihaknya sudah menganggarkan dana untuk pembangunan kembali shelter tersebut. ”Karena itu shelter permanen akan dibangun kembali di titik semula. Jumlahnya juga akan tetap, tidak ada rencana penambahan shelter,” katanya.
Kepala Badan Layanan Umum (BLU) Trans Semarang Kota Semarang Bambang Kuntarso menambahkan, shelter yang dibongkar 6 berada di arah menuju Mangkang dan 6 yang menuju ke Penggaron. Anggaran pembangunan kembali sudah disiapkan sebesar Rp 540 juta. Hanya saja, sampai saat ini pembangunan shelter belum dilelangkan.
”Ada kesalahan karena kegiatan ini dimasukkan dalam anggaran barang dan jasa, padahal seharusnya masuk belanja modal. Karena itu, kegiatan ini belum bisa dilelang, dan belum bisa ada pembangunan kembali,” terangnya.
Bambang menambahkan, agar bisa dimasukkan anggaran belanja modal, shelter BRT itu harus milik dari pemerintah kota. Sedangkan saat ini shelter tersebut masih aset dari pemerintah pusat. Karena itu, saat penyusunan anggaran 2014 lalu pihaknya memasukkannya dalam item anggaran barang dan jasa.
Menurut Bambang, agar anggaran Rp 540 juta tersebut bisa digunakan, maka harus dilakukan proses penyerahan shelter menjadi aset milik pemkot dari pemerintah pusat. Kemudian anggaran tersebut dipindahkan ke item anggaran belanja modal.
”Itu hanya bisa dilakukan pada saat perubahan anggaran nanti. Saat ini, penyerahan aset sudah dalam proses,” jelasnya.
Jika sudah bisa dilelangkan, maka shelter yang dibongkat akan dibangun lagi di titik semula. Hanya bergeser mundur menyesuaikan jalan yang dilebarkan tersebut.
Selain shelter, fasilitas publik lain yang dibongkar untuk perbaikan dan pelebaran Jalan Siliwangi adalah trotoar. Area pejalan kaki sepanjang Jalan Siliwangi itu seluruhnya sudah dibongkar. Termasuk beberapa utilitas milik PLN, PDAM, dan Telkom.
Perbaikan dan pelebaran jalan sendiri dilakukan sebagai salah satu upaya mengatasi kemacetan di sekitar wilayah tersebut. Diharapkan kemacetan karena volume kendaraan yang meningkat pesat ini akan terurai. ”Pembangunan sudah dimulai pada tahun ini,” katanya. (zal/aro/ce1)