233 Siswa Nebeng Unas di Sekolah Lain

339

KALIWIRU–Sebanyak 223 siswa dari 11 SMP/MTs swasta di Kota Semarang terpaksa ‘nebeng’ mengerjakan ujian nasional (unas) di sekolah lain. Sebab, 11 sekolah tersebut belum mendapatkan izin sebagai penyelenggara unas.
Sekolah yang siswanya menginduk ke sekolah lain itu, yakni SMP Filial 20, SMP Filial 23, SMP Al Islam Bangetayu, SMP PGRI 2, SMP Islam Cahaya Insani, SMP Perintis 29, Sekolah International Stamford, Singapore School, SMP Tunas Harapan, SMP IT Al Madhani, dan MTs Miftahus Sa’adah. Para siswa dari sekolah tersebut nebeng unas di SMPN 20, SMPN 23, SMPN 38, SMPN 4, SMPN 11, SMPN 27, SMPN 17, SMPN 29, SMPN 41, dan MTs Negeri 1.
Ketua penyelenggara unas Kota Semarang Sutarto mengatakan, di antara peserta unas yang nebeng itu merupakan siswa dari sekolah internasional, yakni Sekolah International Stamford dan Singapore School. Kedua sekolah ini belum mendapatkan akreditasi, sehingga harus menginduk ke sekolah lain.
“Siswa kedua sekolah internasional itu tetap mengikuti unas sesuai jadwal dan sistem pelaksanaan yang sama dengan sekolah umum. Tidak ada perbedaan pelayanan, hak yang didapat siswa sama,“ jelasnya kepada Radar Semarang Rabu (7/5) siang.
Dikatakan, surat keterangan hasil ujian nasional (SKHUN) siswa yang menginduk tersebut nantinya akan dikeluarkan oleh sekolah tempat mengikuti unas. Namun untuk ijazah, tetap diterbitkan oleh sekolah asal. Sehingga siswa tetap mendapat pengakuan dari negara.“Kalau SKHUN nantinya masih dikeluarkan sekolah penyelenggara atau bagaimana kami belum tahu,“ ungkapnya.
 Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang Bunyamin mengatakan, setiap warga negara Indonesia yang menempuh studi di sekolah internasional tetap mempunyai hak untuk mengikuti unas. Caranya, sekolah internasional wajib mendaftarkan siswanya sebagai peserta ujian nasional. Selanjutnya oleh Disdik, siswa akan diindukkan ke sekolah terdekat.
“Tidak semua siswa yang sekolah di sana (sekolah internasional, Red) akan melanjutkan ke luar negeri. Banyak juga yang memilih SMA di dalam negeri, sehingga butuh SKHUN. Sekolah yang bersangkutan pun harus menfasilitasi kebutuhan itu,” katanya.
Sementara itu, pelaksanaan unas siswa SMP Luar Biasa (SMP LB) di Kota Semarang diikuti 11 peserta. Mereka adalah siswa SLB Widya Bhakti sebanyak 7 peserta dan SLB Swadaya Semarang 5 peserta.
Kepala SLB Widya Bhakti Agustina Herawati mengungkapkan, hingga hari ketiga unas kemarin para siswa mengaku tidak terkendala dalam mengerjakan soal yang diberikan.
“Selama tiga hari ini tidak ada kesulitan yang dialami siswa, saat kami tanya mereka mengaku bisa mengerjakan soal yang diberikam. Harapannya, mereka bisa lulus unas semua,“ ujarnya.(den/aro)