Hanya Satu Alat Berat Ditertibkan

318

Operasi Diduga Bocor

MUNGKID– Upaya penertiban penambangan alat berat di seluruh bantaran sungai yang berhulu di Gunung Merapi oleh tim gabungan diduga bocor. Kemarin, petugas hanya menemukan satu alat berat saja meskipun pada hari sebelumnya terpantau sangat banyak.       
Satu alat berat ditemukan di alur Kali Senowo yang dikelola oleh swasta. Backhoe itu sedang beroperasi menambang batu dan pasir. Dalam operasi kemarin, petugas yang dilibatkan antara lain berasal dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Polsek Dukun, Koramil Dukun, Dinas Perhubungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dan Kecamatan Dukun.     
Sebenarnya tim juga mendapati 7 alat berat lain. Namun belakang diketahui milik PT Abhipraya yang dipakai untuk memecah batu dan reklamasi penanggulangan bencana Merapi.     
“Terakhir saya lihat ada sebanyak 14 alat berat yang beroperasi. Jumlah itu termasuk yang dipakai untuk proyek Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO),” kata Plt Sekda Kabupaten Magelang Agung Trijaya, kemarin.
Padahal sebelumnya pihaknya sudah berupaya mencari tahu titik- titik yang masih dijadikan lokasi penambangan. Berikut berapa banyak alat berat yang masih beroperasi.     
Satu alat berat yang ditertibkan, kata dia, kemudian disita kuncinya. Berikut kartu identitas operatornya bernama Ikut Dewantoro.      “KTP dan kunci alat berat saya ambil. Pemiliknya bisa ambil di kantor Satpol PP besok (hari ini) pagi,” Kepala Satpol PP Kabupaten Magelang Sudjarno.
Petugas, kata Sudjarno baru bisa memberikan sanksi berupa peringatan pertama bagi operator dan pemilik alat berat. Peringatan itu akan dilakukan hingga tiga kali jika alat berat masih saja dioperasikan.     
“Kalau sudah lebih dari tiga kali, kami akan menindak sesuai hukum yang berlaku,” tegasnya.    Menurutnya, penambangan dengan menggunakan alat berat adalah ilegal dan tidak diizinkan. Hal itu sesuai dengan amanat yang tercantum dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2012.         
Sedangkan penambangan manual, kata dia, diperbolehkan dengan syarat sudah mengantongi izin dari Pemkab Magelang. “Selama ini kita sudah terlalu lama memberika toleransi. Sekarang, semua penambangan baik pasir maupun batu tidak boleh menggunakan alat berat. Bagi yang melanggar akan kita tertibkan,” urainya.
Penertiban ini, kata dia, dilakukan di tengah melakukan perbaikan jalur evakuasi. Karena kegiatan itu merupakan prioritas utama dalam mengantisipasi peningkatan status Gunung Merapi.       
“Tapi ternyata, perbaikan jalur evakuasi tidak dibarengi dengan aktivitas penambangan yang berhenti. Hal itu membuat jalur evakuasi masih banyak yang mengalami kerusakan karena dilewati truk- truk pengangkut bahan galian C dari alur sungai berhulu Merapi,” jelas Agung.     
Sementara itu, operator alat berat, Dewantoro mengaku mengaku baru sekali itu melakukan penambangan. Dia mengoperasikan alat berat atas suruhan seseorang warga Desa Keningar, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.
“Kalau alat beratnya milik pengusaha Magelang. Saya baru menjalankan alat berat hari ini (kemarin),” katanya.     
Usai operasi kemarin, belasan truk pengangkut galian C yang sudah mengantre harus rela pulang tanpa membawa hasil. “Saya baru sekali ini mau ambil pasir, tapi malah ditutup. Terpaksa pulang saja,” kata Askoni, sopir truk warga Parakan Temanggung. (vie/lis)