Pernah Digusur Satpol Hingga Dilanda Banjir

346

Setu Utomo, Kembangkan Bisnis Warung Kopi dan Sushi

Setu Utomo jatuh bangun dalam menekuni bisnis kuliner. Ia menyatukan kuliner khas Jepang, sushi, dengan minuman asli Indonesia, kopi. Seperti apa?

INTAN MAYLANI SD, Tembalang

SETU Utomo memulai bisnis pada 2012 lalu bersama rekannya, Arum Bakoh Susilo. Awalnya, pria yang kerap disapa Restu ini membuat bisnis makanan Jepang yang diberi nama ‘Warkoshi’. Nama tersebut merupakan singkatan dari Warung Kopi dan Sushi. Keduanya ingin menyatukan makanan Jepang dengan minuman khas Indonesia, kopi.
“Karena kami tinggal di Jawa, dan orang Jawa suka banget kalo nongkrong nyari kopi. Ya udah kita coba gabungin aja,” ujar bapak satu anak ini kepada Radar Semarang.
Awalnya, pria kelahiran Pati, 18 Juni 1987 ini membuka Warkoshi di Jalan Kusumawardani samping gedung Bank Indonesia (BI), dan masih berupa warung tenda. Namun, karena ada penggusuran oleh petugas Satpol PP, ia pun terpaksa harus pindah.
Selama sebulan, ia mencari tempat untuk berjualan. Sambil mencari modal untuk sewa tempat, Restu berjualan di atas mobil. Ia kembali mangkal di samping gedung BI. Tak lama setelah itu, Restu mendapatkan tempat jualan di Jalan Hayam Wuruk No 10, Pleburan, depan eks kampus Fakultas Ilmu Budaya (Fakultas Sastra) Undip.
Di tempat baru ini, ia mulai memiliki banyak konsumen setia. Mulai kalangan karyawan, orangtua, pelajar, hingga mahasiswa. Warkoshi buka mulai pukul 11.00 hingga 23.00 setiap harinya. Untuk memudahkan interaksi dengan konsumen, anak pertama dari dua bersaudara ini juga aktif berpromosi di media sosial dan grup BlackBerry Messenger (BBM).
“Jadi, kita selalu kasih kabar konsumen lewat media sosial. Misalnya, kita tidak jualan, atau lagi ada promo. Jadi, konsumen jadi tahu dan tidak kecewa apabila libur jualan,” kata putra pasangan Sahri dan Sutinah ini.
Mantan karyawan swasta ini mengaku punya banyak pengalaman pahit selama menekuni bisnisnya itu. Misalnya, saat masih berjualan di samping gedung Bank Indonesia, ia pernah terkena banjir dan angin kencang. Bahkan, dagangannya sampai berantakan. Praktis, Restu pun harus menanggung kerugian. “Pernah nasinya sampai tumpah, dan nggak bisa dijual lagi,” kenang Restu sambil tersenyum.
Saat ini, selain berpartner dengan Arum Bakoh Susilo, Restu juga dibantu 3 karyawan. Ke depan, pria yang bercita-cita menjadi pembisnis sukses ini ingin mengembangkan usahanya lebih besar lagi. Ia ingin membuka cabang di kawasan Tembalang karena dekat dengan perumahan padat dan kampus Undip. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.