Revitalisasi Pasar Mebel Tahun Depan

312

Hampir 30 Los Ludes Terbakar

SOLO–Pedagang Pasar Mebel di Bibis Wetan, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari tampaknya harus lebih bersabar pascakebakaran hebat yang melanda kawasan setempat, Selasa (6/5) siang lalu. Pasalnya, revitalisasi Pasar Mebel paling cepat baru bisa dilaksanakan Pemkot, tahun depan. Kendati, saat ini Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) sudah memiliki perencanaan revitalisasi pasar yang sudah tiga kali terbakar itu.
Sejatinya, Pemkot sudah membuka wacana revitalisasi Pasar Mebel, sejak tahun lalu. Salah satu latar belakangnya adalah pengalaman kejadian kebakaran yang pernah beberapa kali terjadi di pasar ini. Wacana tersebut juga sudah disertai pembuatan detail engineering design (DED) dan persiapan pengajuan anggaran di APBD 2014.
“Kami sudah diskusi dengan paguyuban dan pedagang pasar, sejak setahun lalu. Konsep sudah ditawarkan, tapi waktu itu belum muncul kesepakatan antara pedagang dengan pemkot. Sehingga rencana revitalisasi belum bisa dilanjutkan,” tutur Kepala DPP Solo, Subagiyo kepada wartawan, Rabu (7/5).
Pemkot pun akhirnya mengurungkan alokasi anggaran revitalisasi pasar di APBD 2014. Dengan alasan, tak mau ambil risiko, pasar justru ditinggalkan pedagang pascarevitalisasi. Adapun jika terealisasi, rencananya DPP mengajukan permohonan anggaran sekitar Rp 10 miliar. “Manakala kesepamahaman konsep belum ketemu, kami waktu itu juga tidak berani lanjut. Takutnya kalau baru setengah malah bubar (pedagang),” kata dia.
Dengan fakta terjadinya kebakaran kembali di pasar tersebut, apakah DPP punya niat melanjutkan rencana revitalisasi? Menurut Subagiyo, masih sangat terbuka kesempatan untuk melanjutkan rencana revitalisasi. Terlebih, setelah bencana kebakaran Selasa lalu (6/5) yang telah meratakan hampir 30 kios/los di Pasar Mebel.
Hanya saja, Subagiyo memperkirakan, paling cepat rencana revitalisasi bisa ditindaklanjuti tahun depan. Itu dengan pertimbangan ketidaktersediaan anggaran di tahun ini, bahkan hingga APBD Perubahan 2014. Pemkot juga telah memiliki perencanaan revitalisasi di pasar lain. “Meski kondisinya mendesak, kemungkinan anggaran baru bisa diajukan tahun depan. Karena tahun ini kami kan sudah prioritas revitalisasi Pasar Rejosari dan Pasar Ayam,” urai dia.
Jika rencana revitalisasi Pasar Mebel dilanjutkan, kata Subagiyo, konsepnya tetap akan mengacu pada DED yang sudah pernah dibuat. Ia mengklaim DED tersebut sudah menerapkan aspek-aspek keselamatan dan keamanan, terutama dari bahaya kebakaran. Itu berdasarkan pengalaman kejadian kebakaran yang pernah beberapa kali terjadi di Pasar Mebel.
Subagiyo menyebutkan, ada sejumlah hal yang menjadi poin penting dalam pelaksanaan revitalisasi. Pertama, dilakukannya pemisahan antara ruang showroom dengan ruang industri atau produksi. Semua kios pedagang menghadap ke dalam alias membelakangi jalan.
“Sebenarnya kami sudah meminta pasar digunakan showroom atau display saja. Tapi pedagang tetap minta produksi di situ. Jadi, solusinya diberi pembatas. Misal gagasannya nanti dibuat basement, produksi bisa di sana,” terangnya.
Poin penting lain, sambung dia, adanya batas antara kompleks pasar dengan pemukiman penduduk. Hal itu bisa dilakukan dengan rekayasa pagar atau dinding pembatas. Lalu dibangun pula jalur untuk evakuasi, jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Subagiyo juga menegaskan, bakal memperhatikan material yang digunakan untuk konstruksi pasar.
“Yang jelas menghindari penggunaan kayu atau plastik. Lebih kepada penggunaan semen, batu, besi, seng. Karena jika berkaca pada kejadian sebelum-sebelumnya, persoalannya kan klasik. Kebakaran disebabkan listrik dan peralatan industri,” kata dia.(ria/mas/ida)