Sapi Impor Masuk Jateng

355

BAWEN–Para peternak sapi potong di Kabupaten Semarang resah dengan kebijakan impor daging sapi. Apalagi ada indikasi sudah masuk sapi-sapi dari luar negeri jenis Brahman Cross (BX) masuk ke sejumlah rumah pemotongan hewan (RPH) di Jawa Tengah. Masuknya sapi impor akan berpengaruh dengan anjloknya harga sapi lokal, imbasnya peternak akan merugi.
Koordinator Kelompok Petani Peternak sapi Bangun Rejo, Desa Polosiri, Kecamatan Bawen, Eko Dodi Pramono, 37, mengaku sudah mengetahui masuknya sapi impor ke sejumlah RPH di Jawa Tengah. Salah satunya di RPH Wiradesa, Kabupaten Pekalongan yang terdeteksi sudah ada sapi impor jenis BX.
“Kami punya data dan foto- foto aktivitas pemotongan sapi BX itu. Bagi kami, hal ini merupakan ancaman bagi kesejahteraan peternak sapi lokal. Sebab dengan masuknya sapi impor tersebut akan mempengaruhi harga sapi lokal. Ini jelas yang akan rugi peternak sapi lokal,” ujar Dodi, Rabu (7/5).
Menurut Dodi, harga daging sapi di Jawa Tengah berkisar antara Rp 85 hingga Rp 90 ribu per kilogram. Sementara itu harga daging sapi impor lebih rendah dari harga sapi lokal. Sehingga dengan masuknya sapi impor otomatis akan mempengaruhi harga sapi lokal.
Senada dikatakan peternak sapi potong asal Susukan, Kabupaten Semarang, Muntoha, 58. Masuknya sapi impor sudah menjadi perbincangan hangat di kalangan peternak. Apalagi menjelang Lebaran, dikhawatirkan hadirnya sapi impor akan menggerus harga sapi lokal. Muntoha menyayangkan masuknya sapi-sapi impor tersebut, sebab selama ini di Jawa Tengah termasuk daerah yang tidak mengizinkan masuknya sapi impor.
“Harapan kami harga daging sapi tetap stabil. Tetapi masuknya sapi impor membuat kami khawatir harga akan anjlok,” tutur Muntoha.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Whitono, tidak menampik adanya sapi impor yang masuk Jateng. Keberadaan sapi impor tersebut sudah ditindaklanjuti bersama pihak- pihak terkait. Whitono mengaku masih menelusuri masuknya sapi BX tersebut ke sejumlah RPH di Jawa Tengah.
“Kami juga berkoordinasi dengan Asosiasi Produsen Daging dan Fedloter Indonesia (Apfindo) Joni Leano. Dari informasi Apfindo memang sudah ada pemotongan sapi impor, namun jumlahnya tidak banyak, hanya sekitar 15 ekor,” ungkap Whitono.
Menurut Whitono, ada kemungkinan ketentuan impor pemerintah Australia yang tidak dipenuhi sehingga sai impor bisa masuk Jateng. Sesuai aturan ekspor pemerintah Australia, hal ini tidak boleh. Sebab Australia memberlakukan kebijakan ketat tentang animal welfare (kesejahteraan ternak) bagi importir yang akan mendatangkan sapi dari negaranya.(tyo/ton)