PG Tasikmadu Giling 4,2 Juta Kuintal Tebu

322

KARANGANYAR–Pabrik Gula Tasikmadu memulai penggilingan, kemarin (9/5). Seperti biasanya, sesaji tujuh kepala kerbau dalam ritual Cembengan mengiringi massa penggilingan tebu. Tujuh kepala kerbau itu diletakkan di antara mesin penggiling.
Ketua Pelaksana Cembengan, Primanda Bayu Adi Haryono menjelaskan, makna kepala kerbau dalam ritual ini diibaratkan seperti peran kerbau dalam pertanian. Kerbau sering dimanfaatkan untuk membajak sawah. Sama halnya dengan pekerja dalam proses penggilingan tebu di pabrik sangat penting. Dengan kepala kerbau ini diharapkan pekerja selamat sampai masa penggilingan selesai. “Sesaji kepala kerbau supaya penggilingan tidak ada hambatan dan berjalan lancar, aman semua selama sampai selesai,” ucap Bayu usai ritual, kemarin.
Diterangkan Bayu, ritual dengan sesaji kepala kerbau ini setiap tahun dilakukan. Kepala kerbau berjumlah tujuh juga ada keterkaitan dengan jumlah stasiun yang ada. “Masing-masing ada stasiun penggilingan, pemurnian, penguapan, pengemasan dan lain-lain. Ini suatu rangkaian dari proses penggilingan tebu,” kata dia.
Bayu menambahkan, tebu yang akan digiling tahun ini sebanyak 4,2 juta kuintal. Perkiraan gula yang didapat sekitar 303.000 kuintal. Sedangkan tahun lalu, mencapai 4,6 juta kuintal tebu. Dirinya berharap, produksi tahun ini meningkat dibanding tahun lalu meskipun waktu penggilingan tahun ini mundur.
“Tahun ini penggilingan dimulai 17 Mei dan berakhir bulan Oktober. Tahun lalu awal penggilingan dimulai 12 Mei. Ini disebabkan karena kondisi tanamnya kemasakannya dibanding tahun kemarin mundur,” tuturnya.
Sebelum dimulai ritual, sesaji lebih dulu diarak. Masyarakat sekitar PG Tasikmadu pun tak mau melewatkan agenda tahunan ini. Mereka antusias melihat dari dekat pabrik yang berdiri sejak zaman Belanda itu. Arak-arakan disertai pula berbagai macam sesaji. Seperti gagar mayang (bunga pohon tebu), kembang telon, joli (terbuat dari bambu kertas hias) dan berbagai jenis tumpeng.
Rangkaian ritual Cembengan dilanjutkan hari ini (9/5). Yakni berupa “pernikahan” tebu laki-laki dan tebu perempuan. Menurut Bayu, tebu yang “dinikahkan” juga diberi nama sebagai simbol sesuai jenis kelaminnya. (adi/mas/ida)