Temukan 23 Jenis Koro, Kandungan Karbohidratnya Tinggi

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Christiana Retnaningsih, Dosen yang Teliti Koro sebagai Pengganti Kedelai

Sejak 2007, Christiana Retnaningsih melakukan penelitian kandungan kacang-kacangan jenis koro sebagai pengganti kedelai. Dosen Prodi Teknologi Pangan Unika Soegijapranata ini menemukan 23 jenis koro. Seperti apa?

AHMAD FAISHOL, Bendan Dhuwur

MEMILIKI latar belakang seorang akademisi, tidak menjadikan hal yang sulit bagi Christiana Retnaningsih untuk melakukan penelitian. Ia kerap meneliti sesuatu yang kemudian diaplikasikan dalam bentuk praktik, sehingga bisa menghasilkan manfaat bagi masyarakat. Kini, Retna –sapaan akrabnya- tengah meneliti tentang kandungan dan manfaat apa saja yang didapat dari jenis kacang-kacangan (leguminoseae) yang masih dianggap sepele oleh masyarakat. Diharapkan, hasil penelitian tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Ditemui Radar Semarang di kampus Program Nutrisi dan Teknologi Kuliner Prodi Teknologi Pangan Unika Soegijapranata Semarang, Kamis (8/5), Retna membeberkan awal mula melakukan penelitian kacang-kacangan sejak 2007. Waktu itu, ia termotivasi untuk mencari alternatif pengganti bahan utama kedelai. “Seperti diketahui, kedelai merupakan bahan pokok yang susah digantikan. Sementara jumlahnya terbatas dan hampir 70 persen yang ada di Indonesia adalah produk kedelai impor,” ungkap perempuan kelahiran Temanggung, 29 Mei 1963 ini.  
Atas dasar itulah, ia mencari produk lokal yang dapat dimanfaatkan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan akhirnya diketahui kacang-kacangan pengganti kedelai, yakni koro. Bahkan, dirinya menemukan 23 jenis koro yang selama ini ditanam oleh para petani. Di antaranya, memiliki nama lokal koro uceng, legi, glinding benguk putih, benguk rawe, benguk rase, benguk ceplis, benguk arab, gajih, loke, pedang/bedhog, beton/endi, ireng/pahit, kecipir, kecipir welut, mangsi, cecak, eblek, plenty, ijo, gude, lucu, urang, dan lainnya.
“Uniknya, jenis tanaman tersebut dapat tumbuh di mana saja. Baik itu di pematang sawah maupun tegalan. Bahkan di daerah kering dan tandus pun dapat hidup sehingga tidak perlu penanganan yang lebih dan budidayanya cukup murah,” beber alumnus Pascasarjana Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran/Kesehatan Undip ini.
Retna menambahkan, dari kandungan gizinya koro tidak kalah dengan kedelai. Sebagai perbandingan, dalam komposisi kedelai per 100 gram bahan mengandung protein 40.4, karbohidrat 24.9, dan lemak 16,7. Sedangkan dalam koro jenis benguk memiliki protein 31, karbohidrat 63.3, dan lemak 5.1. “Ini terbukti bahwa koro memiliki karbohidrat lebih tinggi dan lemak lebih sedikit,” jelas ibu tiga anak ini.
Hanya saja, imbuh Retna, dalam mengenalkan kepada masyarakat masih terdapat beberapa kendala. Di samping kepastian pasar belum ada, usia tanam koro relatif lebih panjang dibandingan dengan kedelai. Selain itu, beberapa jenis koro terdapat kandungan asam sianida yang bersifat toksik (racun).
“Untuk mengolahnya juga membutuhkan waktu yang lama. Yakni, dengan cara direndam selama 3 hari 3 malam,” kata perempuan yang mengaku telah mempresentasikan temuannya itu di depan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.
Meski begitu, masyarakat kini mulai menyadarinya. Dengan dibantu oleh para mahasiswanya, Retna memperkenalkan cara pengolahan. Misalnya, jenis koro gude dapat dibuat menjadi kecap, koro pedang menjadi tempe, dan koro glinding menjadi sejenis jagung serut.
“Bahkan di daerah Wonogiri  dan Sukoharjo telah dibuat berbagai jenis camilan seperti koro dieng goreng, dan koro-koro jenis mayasi,” ungkap perempuan yang tinggal di Jalan Tengger Barat II/69, RT 04 RW 07, Semarang ini.
Ke depan, Retna berencana untuk terus mengembangkan, sehingga pengolahan pangan berbasis koro semakin luas. Baik di tingkat industri rumah tangga maupun industri besar. Sehingga ketergantungan pada impor kedelai menjadi menurun. Menurutnya, semua itu perlu dukungan baik dari para petani maupun pemerintah.
“Saya mempunyai harapan suatu saat koro ini menjadi produk pangan fungsional. Jika sekarang ada produk sari kedelai, nantinya ada sari koro. Jika ada jenis makanan berbahan kedelai, ada juga berbahan koro,” pungkas pemilik moto hidup bekerja dengan sepenuh hati dan berserah kepada Tuhan ini. (*/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -