23 Dirawat, Satu Meninggal

362

Penderita DBD Hampir Merata

PEKALONGAN—Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue ( DBD) di Kota Pekalongan melonjak. Satu orang tercatat meninggal dunia dan belasan lainnya dirawat di rumah sakit.
Kasus DBD ditemukan di 11 kelurahan. Masing-masing empat kasus di Kelurahan Dekoro, dua kasus di Kelurahan Kebulen, Sapuro, Bendan, dan Medono. Satu kasus lainnya, di Kelurahan Klego, Podosugih, Kauman, Tirto, Tegalrejo. Sedangkan 1 warga tewas di Kelurahan Setono.
Hingga Mei 2014, Dinas Kesehatan Kota Pekalongan tercatat ada 24 laporan kasus DBD. Dari jumlah itu, satu orang meninggal dunia.
Sebagian besar penderita DBD masih berusia balita. Termuda, tercatat berusia 10 bulan. Penderita lain, masih berumur antara 3 sampai 11 tahun. Sedangkan penderita DBD paling tua, masih berumur 18 tahun.
Penderita DBD yang meninggal dunia adalah Amirah Zakiyah, 26 bulan, warga Kelurahan Setono RT 01 RW 11, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan. Ia meninggal pada Kamis (8/5) lalu di RSUD Bendan.
Rumiyati, 28, ibu kandung Amirah Zakiyah menuturkan, putrinya terlambat ditangani. Sebelumnya, kata Rumiyati, Amirah sudah dirawat di RS Siti Khotijah dan dirujuk ke RSUD Bendan. ”Kalau saja bisa ditangani lebih cepat dan baik, saya yakin masih terselamatkan,” ucap Rumiyati, sembari terisak.
Ketua RT 01 RW 11, Kelurahan Setono, Mukidin, 54, menuding, lambannya Dinkes dalam melakukan fogging, membuat 1 warga di kelurahannya meninggal dunia.
Padahal, sejak awal April lalu, pihak kelurahan sudah meminta Dinkes melakukan fogging. Namun, tidak direspons. ”Kalau saja fogging dilakukan lebih awal, mungkin 7 orang warga Setono tidak kena DBD.”
Kabid Pencegahan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL), dr Tuti Widayanti menjelaskan, setelah ada laporan kasus DBD, pihaknya langsung melakukan kunjungan lapangan.
Petugas, kata dia, sudah mengunjungi rumah sakit dan Puskesmas untuk mengecek apakah ada penderita DBD lain yang dirawat.
“Dari pemantauan tersebut, baru bisa diputuskan apakah perlu dilakukan fogging atau tidak. Karena fogging dilakukan berdasarkan kriteria, bukan permintaan dari masyarakat.”
Menurut Tuti, 11 kelurahan yang mengalami kasus DBD sudah dilakukan fogging dan akan diulang kembali dua minggu kemudian. Masih menurut Tuti, fogging di Setono, adalah yang terakhir, setelah 10 kelurahan lainnya.
“Kalau abate, kami berikan di semua kelurahan, baik ada penderita maupun tidak. Karena abate berfungsi untuk membunuh jentik nyamuk yang berada di tempat penampungan air. Abate bisa didapatkan di kelurahan maupun Puskesmas terdekat secara gratis,” kata Tuti.
Data kasus selama tiga tahun terakhir mengungkap, pada 2014, Dinkes menetapkan lima kelurahan endemis DBD. Yakni, Kelurahan Medono, Pasirsari, Kandang Panjang, Klego, dan Bendan.
Satu kelurahan yang sebelumnya berstatus endemis namun kini bebas adalah Kelurahan Kauman.(thd/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.