Belum Teratasi, Rob Masih Tinggi

286

GAYAMSARI – Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Maritim Semarang bahwa batas maksimum rob masih akan terjadi hingga bulan Mei, memang benar terjadi. Sejumlah wilayah seperti Kaligawe, Kecamatan Gayamsari dan Kemijen Kecamatan Semarang Timur, beberapa minggu terakhir ini masih dilanda rob setinggi lebih dari 20 sentimeter.
Kemarin sore rob juga kembali menggenangi Jalan Raya Kaligawe, sama seperti hari-hari sebelumya. Di Jalan Raya Kaligawe ini ketinggian rob yang mencapai 20 sentimeter berdampak pada sejumlah jalan dan permukiman di bagian timur Semarang jadi tergenang air laut.
Selain karena posisi wilayah yang rendah, sungai yang diharapkan menjadi penampung air rob tidak dapat berfungsi maksimal. Ini terlihat di Sungai Banger yang nyaris meluap. Akibat rob, aktivitas warga pun menjadi terganggu. “Kami berharap pemerintah dapat segera mengatasi permasalahan rob ini. Program penanganan rob dari pemerintah kami nantikan realisasinya. Sehingga di masa mendatang rob tidak lagi mengganggu aktivitas kami,” kata Khasanan, warga Kemijen.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi mengakui beberapa minggu ini terjadi rob di Semarang, bahkan cukup tinggi. Seperti  di Jalan Ronggowarsito dan Jalan Empu Tantular Kelurahan Tanjungmas, Kecamatan Semarang Utara. Namun di jalan akses menuju pelabuhan itu diklaim rob sudah bisa teratasi. “Pedagang Kaki Lima (PKL) di Jalan Ronggowarsito sudah kami minta untuk menyingkir, lalu saluran di bawahnya dibersihkan. Karenanya meskipun robnya tinggi, tetapi sudah tidak ada genangan yang berarti di wilayah tersebut,” katanya.
Untuk di wilayah Semarang Timur diakui rob masih menjadi persoalan utamanya mulai Kaligawe hingga Kemijen. Saat ini pemkot masih menunggu penyelesaian kegiatan yang sedang dilakukan di sistem Polder Banger. Di sistem ini rumah pompanya sudah jadi tapi masih menunggu pompanya, sehingga belum dapat berfungsi. “Di sistem ini sekarang semua pompa belum berfungsi, rumah pompa sudah jadi tinggal menunggu pompa sekaligus penutupan muara Kali Banger yang akan dilakukan sampai akhir tahun oleh Satker PPLP,” terangnya.
Sekretaris Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air dan Energi Sumber Daya Mineral (PSDA – ESDM) Kota Semarang, Rosid Hudoyo menambahkan, pemicu rob di Kaligawe dan Kemijen karena belum berfungsinya sistem drainase Kali Tenggang dan Kali Banger. Sistem Polder Banger yang seharusnya selesai tahun 2013 lalu masih terkendala pembebasan lahan untuk kolam retensi. Jika sistem drainase itu sudah berfungsi optimal diharapkan akan mampu mengatasi rob.
Berdasar hasil prediksi BMKG Maritim Semarang, potensi rob di wilayah utara Kota Semarang masih cukup tinggi hingga akhir Mei mendatang. Batas maksimum rob mencapai 1,1 meter. Kasi Observasi dan Informasi BMKG Maritim Semarang, Retno Widyaningsih mengatakan, pada bulan Mei ini rob terjadi antara 5-9 Mei, mulai jam 15.00-19.00. “Setelah itu kembali normal. Dan akan terjadi lagi pada tanggal 19-24 Mei, antara jam 13.00-16.00. Dengan Ketinggian maksimal 1,1 meter,” ujarnya.
Retno menjelaskan, rob terjadi saat-saat itu karena jarak gravitasi bulan dan matahari paling dekat. Dan Kota Semarang kebetulan menghadap ke matahari saat tanggal-tanggal itu. Meski kondisi rob, namun gelombang air laut tetap normal. Dengan ketinggian gelombang antara 1 meter sampai 1,5 meter. (zal/ton)