Petani Andalkan Pupuk Organik

308

Atasi Kelangkaan Pupuk Buatan Pabrik

KLATEN–Kelangkaan pupuk yang terjadi di Klaten sejak sebulan terakhir membuat petani harus memutar otak untuk mencari solusi. Seperti yang dilakukan para petani anggota Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Delanggu ini. Mereka menciptakan pupuk organik yang berasal dari limbah peternakan dan pertanian sebagai pengganti pupuk pabrik.
Di Desa Tlobong, Kecamatan Delanggu, kemarin beberapa petani sedang berkumpul di sawah untuk membahas kondisi tanaman padi yang mulai tumbuh subur. Tidak ada raut wajah khawatir yang terpancar dari petani saat terjadi kelangkaan pupuk. Mereka sudah mampu menciptakan pupuk organik.
Bahan baku yang dimanfaatkan tidak perlu membeli, cukup dengan mengolah limbah pertanian dan peternakan yang ada di sekitar. Mulai dari kotoran sapi, jerami bekas padi dipanen, buah-buahan yang busuk.
“Semua bahan yang sudah terkumpul kemudian difermentasi dan diolah menjadi pupuk organik. Ada dua jenis pupuk organik yang akan tercipta berbentuk cair dan padat. Namun kebanyakan yang sering dimanfaatkan petani pupuk organik padat,” ungkap Ketua KTNA Delanggu Atok Susanto.
Kelangkaan pupuk yang terjadi justru menjadi kesempatan bagi anggota KTNA untuk memasarkan pupuk organik yang dihasilkan. Dalam sebulan kelompok tani ini mampu memproduksi lima ton pupuk organik. Ada ratusan petani yang sudah menjadi konsumen pupuk tersebut.
Tidak hanya dari Kecamatan Delanggu, namun petani asal Karanganom, Trucuk, Wonosari, Polanharjo, Tulung juga memanfaatkan pupuk organik sebagai pengganti pupuk kimia. Banyak yang sudah membuktikan bahwa manfaat pupuk yang dihasilkan KTNA Delanggu justru lebih bagus dibandingkan pupuk produk pabrik.
“Ada ratusan hektare lahan pertanian yang menggunakan pupuk buatan kami. Tidak hanya untuk tanaman padi, namun cocok juga tanaman sayur,” imbuhnya. (oh/bun/ida)