Bocah SD Cabuli Delapan Teman

325

Korban 6 Anak Laki-laki, 2 Perempuan

KARANGANYAR–Kasus asusila dengan korban anak-anak (pedofilia) yang membuat heboh ibu kota ternyata merembet ke daerah. Seperti yang terjadi di Dusun Jabalkanil, Desa Bandardawung, Kecamatan Tawangmangu. Mendadak kampung ini gempar lantaran seorang siswa SD berinisial Df, mencabuli delapan anak seusianya.
Informasi yang dihimpun Radar Solo di lokasi kejadian, kasus ini terungkap berdasarkan pengakuan korban kepada orang tuanya. Tak terima anaknya diperlakukan bejat oleh pelaku, para orang tua meminta pertanggungjawaban. Pada Sabtu (10/5) malam, keluarga pelaku dan keluarga korban bermediasi secara kekeluargaan. Dalam mediasi itu, juga dihadiri Kapolres Karanganyar AKBP Martireni Narmadiana. Namun nampaknya pertemuan ini berjalan buntu. Hingga sore kemarin, pihak kepolisian setempat masih terlihat mengawasi rumah korban dan pelaku.
Kepala Dusun Jabalkanil, Narno ditemui wartawan kemarin menceritakan, dirinya kaget setelah mendengar cerita tersebut. Informasi yang ia terima, total korban delapan anak. Yakni enam anak laki-laki, dua anak perempuan. Semua seusia pelaku. “Perbuatan itu dilakukan di rumah pelaku. Korbannya diiming-imingi mainan. Kemudian diajak ke rumah dan diperbuat seperti itu,” terang Narno, kemarin.
Awalnya, pencabulan ini terkuak saat tingkah aneh salah satu korban dilihat gurunya di sekolah. Korban melakukan gerakan senggama seperti yang dipraktekkan dengan korban. Saat ditanya, siswa tersebut mengaku mempraktekkan hal itu seperti yang diperbuat Df terhadap dirinya. Siswa tersebut juga menyebut sejumlah nama yang mengalami peristiwa serupa.
“Semua korban masih bertetangga dekat pelaku di RT 3 RW 3 dan RT 1 RW 3 Dusun Jabalkanil. Guru itu kemudian menceritakan kepada orang tua korban. Baru pada malam harinya langsung mediasi,” jelasnya.
Orang tua korban mengatakan jika anaknya diancam akan menghajar apabila menolak. Setiap korban mengaku dicabuli lebih dari satu kali. Lokasi berada di rumah pelaku, tepatnya di kamar kakek-neneknya. “Korban mengeluh sakit di bagian kemaluan. Mereka masih menunggu hasil visum dulu, sebelum melangkah lebih jauh,” kata dia.
Diketahui, Df selama ini memang tinggal bersama kakeknya bernama Karsopono. Adapun Df sebelumnya pindahan dari Jakarta dua tahun silam. Di mana, kedua orang tuanya merupakan seorang wiraswasta di Jakarta. Lantaran jauh dari pengawasan orangtua, kenakalan Df semakin menjadi.
“Korban juga mengaku disuruh minum minuman oplosan obat flu yang dicampur dengan minuman berenergi. Ada yang mengaku sampai digituin lima kali. Ada yang delapan kali,” kata dia.
Hingga sore kemarin saat sejumlah awak media di lokasi, aparat kepolisian masih berjaga di rumah pelaku dan korban. Kapolsek Tawangmangu AKP Riyanta dan anggota juga berada di sana. Sayangnya, ia enggan memberikan keterangan. Termasuk Kapolres AKBP Martireni Narmadiana saat ditemui juga menolak menjelaskan peristiwa itu. Dengan alasan laporan detil belum diterimanya. (adi/mas/ida)