Desak Bandungan segera Ditertibkan

309

KONDISI kawasan wisata Bandungan, Kabupaten Semarang yang semakin parah, menjadi sorotan semua kalangan. Lokasi wisata itu semakin semrawut. Banyak hiburan malam, serta ajang prostitusi liar.
Bahkan, sejumlah rumah kos pekerja seks juga merambah hingga perkampungan warga. Kondisi tersebut, mengundang keprihatinan semua pihak. Mereka mendesak Pemkab Semarang segera melakukan penertiban dan penataan.
Anggota Fraksi PAN DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto mengatakan, Bandungan tidak lagi nyaman sebagai wisata keluarga. Sebab, saat ini, kondisi Bandungan sudah dipenuhi tempat-tempat hiburan malam dan bisnis prostitusi.
Dampak sosial adanya tempat-tempat hiburan dan prostitusi yang menjamur, menurut Said, sudah terasa. Ia mencontohkan, di Desa Candi, Kecamatan Bandungan tempat tinggal Said, sudah ada beberapa anak-anak yang terjerumus bekerja di dunia hiburan tersebut. Banyak warga yang mengeluhkan masalah tersebut.
“Anak di sini, lebih memilih bekerja di karaoke. Bahkan, ada juga yang menjadi tukiman (sebutan lelaki pendamping pekerja seks atau pemandu karaoke). Bahkan, anak-anak perempuan lulusan SMA, bahkan SMP ada yang akhirnya kerja seperti itu, karena lebih mudah dapat uang,” ungkap Said.
Said menambahkan, banyaknya tempat hiburan malam dan hotel esek-esek menjadikan warga setempat menggantungkan hidupnya dari bisnis tersebut. Sehingga sulit untuk menutup dan menjadikan kawasan Bandungan lebih bersih.
Menurut Said, kondisi Bandungan yang sudah semrawut dan kondisi sosialnya yang sudah tidak bagus, perlu segera dibenahi.
“Ini sudah masuk tahap emergency. Jadi, harus segera ditangani. Kalau langsung semuanya ditertibkan, tidak mungkin. Tapi bisa dilakukan dengan pembatasan dan bertahap di tertibkan.”
Menurut Said, untuk menata Bandungan, butuh keberanian Pemkab Semarang. Sehingga imej Bandungan menjadi lebih baik dan menjadi surga bagi tempat wisata keluarga yang nyaman. “Jangan terus beralasan ini soal urusan perut. Urusan akhlak dan moral generasi penerus di Bandungan juga jangan diabaikan. Ini juga harus mendapatkan perhatian Pemkab Semarang dong,” sentilnya.
Said menilai, prostitusi dan seks bebas tumbuh subur di Bandungan. Indikasinya, kondom bekas pakai saja sampai jumlahnya ribuan. Said pun mendesak agar problem sosial itu mendapatkan perhatian serius dari Pemkab. “Generasi muda di sekitar Bandungan, lebih penting,” kata Said.  
Terpisah, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Semarang, Zaenal Mutaqim, mendukung wacana anggota DPRD Kabupaten Semarang untuk menertibkan dan menata Bandungan.
Menurut Zaenal, pihaknya prihatin dengan tumbuh suburnya tempat hiburan dan hotel mesum. Sebab, sedikit banyak hal itu akan menimbulkan masalah sosial masyarakat.
“Sekarang ini tempat karaoke menjamur, bahkan pemandunya anak- anak. Selain itu, banyak hotel dan penginapan yang dijadikan tempat mesum. Tidak jarang tamunya juga anak- anak yang masih sekolah. Kita ngeri melihatnya. Cepat atau lambat, masalah ini akan menjadi masalah besar di Bandungan,” ungkapnya.
Zaenal mengatakan, MUI sebenarnya sudah sering memberi masukan agar kawasan Bandungan ditata dan ditertibkan, agar tidak mengancam kehidupan sosial warga.
“Lihat saja, di kota lain seperti di Jatim yang memiliki Jatim Park. Itu menjadi tempat wisata keluarga yang benar-benar bisa dinikmati. Semua ini kewenangan Pemkab. MUI akan mendukung langkah pemkab untuk menertibkan.”(tyo/isk)