Rejeban, Lestarikan Kuda Lumping

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

CEPOKO — Tradisi Rejeban, sudah lekat dengan masyarakat Desa Cepoko, Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati. Mereka melakukan arak-arakan menyusuri jalanan desa. Dimeriahkan pula dengan tari-tarian khas Kuda Lumping dan atraksi Kuda Lumping. Beberapa pemain kesurupan ketika alunan musik gending Jawa mengalun. Ada yang makan bunga serta mengupas kelapa muda dengan menggunakan mulut. Hal itu sangat menarik perhatian masyarakat desa. Baru kemudian, beberapa pawang menenangkan pemain yang kesurupan.
Itulah kesenian tradisional yang sudah membudaya secara turun-temurun. Karena itu, perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas agar generasi berikutnya melestarikannya. ”Banyak anak muda yang tidak tahu tradisi dan atraksi Kuda Lumping ini. Karena itulah, mulai saat ini harus memahami kesenian dari bangsa sendiri,” kata sesepuh masyarakat Cepoko, Sugiyono, kemarin.
Kata Sugiyono, atraksi seni Kuda Lumping tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan pendidikan budaya kepada masyarakat sekitar. Bahwa, kesenian Kuda Lumping yang diarak keliling kampung adalah tradisi yang turun-temurun. ”Sebelum atraksi dilakukan, Kuda Lumping diarak keliling kampung pada bulan Rajab ini,” katanya.
Salah seorang penonton, Marfuah, 35, mengaku sudah tahu tentang kesenian Kuda Lumping. Tetapi saat menonton, dirinya selalu merasa takut karena bisa kesurupan. ”Kesenian itu sudah lama, takut kalau menonton ikut kesurupan,” akunya.
Menurutnya, begitu gamelan dimainkan serta nyanyian Jawa didendangkan, maka para pemain Kuda Lumping langsung kesurupan sekaligus menari dengan menggunakan Kuda Lumping. ”Meskipun kesurupan, sudah ada pawang yang bisa menyadarkan pemain,” katanya.
Meski demikian, dirinya tetap menonton dengan jarak yang cukup jauh. Kalau tidak jauh, pemainnya yang kesurupan, terkadang mengejar penonton sehingga membuat takut. ”Kalau dari dekat, takutnya dikejar pemain yang kesurupan itu,” katanya.
Sedangkan Ketua Paguyuban Kesenian Krida Asih Arumsari, Danang Wahyudi mengatakan bahwa kesenian Kuda Lumping ini merupakan kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan. ”Sebagai anak bangsa, keberadaan kesenian ini perlu dilestarikan agar tidak punah dan dimiliki oleh bangsa lain,” katanya. (hid/ida/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -