Rejeban, Lestarikan Kuda Lumping

284

CEPOKO — Tradisi Rejeban, sudah lekat dengan masyarakat Desa Cepoko, Kelurahan Cepoko, Kecamatan Gunungpati. Mereka melakukan arak-arakan menyusuri jalanan desa. Dimeriahkan pula dengan tari-tarian khas Kuda Lumping dan atraksi Kuda Lumping. Beberapa pemain kesurupan ketika alunan musik gending Jawa mengalun. Ada yang makan bunga serta mengupas kelapa muda dengan menggunakan mulut. Hal itu sangat menarik perhatian masyarakat desa. Baru kemudian, beberapa pawang menenangkan pemain yang kesurupan.
Itulah kesenian tradisional yang sudah membudaya secara turun-temurun. Karena itu, perlu disosialisasikan kepada masyarakat luas agar generasi berikutnya melestarikannya. ”Banyak anak muda yang tidak tahu tradisi dan atraksi Kuda Lumping ini. Karena itulah, mulai saat ini harus memahami kesenian dari bangsa sendiri,” kata sesepuh masyarakat Cepoko, Sugiyono, kemarin.
Kata Sugiyono, atraksi seni Kuda Lumping tersebut sengaja dilakukan untuk memberikan pendidikan budaya kepada masyarakat sekitar. Bahwa, kesenian Kuda Lumping yang diarak keliling kampung adalah tradisi yang turun-temurun. ”Sebelum atraksi dilakukan, Kuda Lumping diarak keliling kampung pada bulan Rajab ini,” katanya.
Salah seorang penonton, Marfuah, 35, mengaku sudah tahu tentang kesenian Kuda Lumping. Tetapi saat menonton, dirinya selalu merasa takut karena bisa kesurupan. ”Kesenian itu sudah lama, takut kalau menonton ikut kesurupan,” akunya.
Menurutnya, begitu gamelan dimainkan serta nyanyian Jawa didendangkan, maka para pemain Kuda Lumping langsung kesurupan sekaligus menari dengan menggunakan Kuda Lumping. ”Meskipun kesurupan, sudah ada pawang yang bisa menyadarkan pemain,” katanya.
Meski demikian, dirinya tetap menonton dengan jarak yang cukup jauh. Kalau tidak jauh, pemainnya yang kesurupan, terkadang mengejar penonton sehingga membuat takut. ”Kalau dari dekat, takutnya dikejar pemain yang kesurupan itu,” katanya.
Sedangkan Ketua Paguyuban Kesenian Krida Asih Arumsari, Danang Wahyudi mengatakan bahwa kesenian Kuda Lumping ini merupakan kebudayaan turun-temurun dari nenek moyang, sehingga keberadaannya perlu dilestarikan. ”Sebagai anak bangsa, keberadaan kesenian ini perlu dilestarikan agar tidak punah dan dimiliki oleh bangsa lain,” katanya. (hid/ida/ce1)