Banyak Temuan, Butuh Museum

247

TEMANGGUNG–Banyaknya temuan benda-benda kuno yang bernilai sejarah tinggi di Dusun Liyangan Desa Purbosari, Ngadirejo, tampaknya perlu tempat khusus menampung benda-benda purbakala tersebut.
Kepala Desa Purbosari, Muhammad Ansori menuturkan, selama ini benda-benda bersejarah yang ditemukan oleh penambang pasir di sekitar situs Liyangan, hanya ditampung di pos pengamanan situs yang berada di lokasi tersebut dan balai desa setempat. “Mau bagaimana lagi, belum ada tempat khusus untuk menampung benda-benda itu. Jadi untuk sementara dan sangat terpaksa di tampung di dua tempat tersebut,” katanya.
Selain di dua tempat tersebut katanya, benda-benda bersejarah lainnya yang mempunyai nilai sejarah dan nilai ekonomis tinggi ditampung di salah satu tempat milik dari tim peduli Liyangan. Hal ini dilakukan untuk menghindari pencurian.
“Kalau untuk benda-benda seperti pecahan tembikar, keramik sementara disimpan di pos sebelum disusun kembali. Untuk benda-benda seperti pedang, mata tumbak dan beberapa benda lainnya disimpan di balai desa. Benda yang dianggap mempunyai nilai historis dan ekonomis tinggi disimpan, kalau tempatnya rahasia, tapi saya jamin benda-benda itu sangat aman,” terangnya.
Ia mengatakan, sudah puluhan benda-benda bersejarah yang ditemukan di sekitar situs Liyangan. Hampir semua benda yang ditemukan mempunyai nilai historis tinggi. Sayangnya pemerintah kabupaten hingga saat ini belum juga merealisasikan rencana pembangunan museum yang akan digunakan untuk menyimpan benda-benda tersebut.
“Di awal pemerintahan Bambang Sukarno dan Irawan Prasetyadi, pemerintah sudah berencana membangun museum, tapi sampai sekarang belum juga direalisasikan. Padahal Liyangan sangat membutuhkan museum, karena tempat yang digunakan untuk menampung benda-benda temuan itu sudah mulai penuh,”katanya.
Pihaknya berharap, pemerintah segera membangun museum. Selain untuk mengamankan benda-benda bersejarah, museum bisa menjadi daya tarik bagi wisatawan “Banyak pengunjung yang sering menanyakan benda-benda temuan, tapi kami belum bisa melayani dengan optimal karena keterbatasan fasilitas,” ujarnya.
Sementara itu, juru pelihara Situs Liyangan, Budiyono menuturkan, setiap kali penambang pasir yang berada di sekitar situs Liyangan menemukan benda-benda bersejarah, mereka langsung melaporkan dan memberikan benda temuan mereka. “Tidak ada satupun penambang pasir yang berani menyembunyikan atau membawa benda temuan mereka. Kami 24 jam nonstop menjaga secara bergantian,”tegasnya. (zah/lis)