Berkas 17 Eks Dewan Rampung

267

Korupsi Asuransi
Fiktif Rp 1,7 Miliar

BARUSARI—Unit Tipikor Satuan Reskrim Polrestabes Semarang akhirnya merampungkan pemeriksaan 17 eks dewan Kota Semarang periode 1999 – 2002.
Dengan begitu, berkas para tersangka sudah siap untuk dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Semarang. Dalam pemeriksaan, para tersangka mengakui menerima uang masing-masing Rp 36 juta.
Kepala Satuan Reskrim Polrestabes Semarang, AKBP Wika Hardianto mengatakan, proses pemeriksaan 17 eks dewan sebagai tersangka sudah rampung. Kepolisian hanya perlu sedikit waktu untuk melimpahkan ke Kejari.
Sebanyak 17 tersangka, semua sudah diperiksa, untuk melengkapi berkas pemeriksaan sejak April-Mei. “Sudah disusun dan secepatnya kami limpahkan.”
Hasil pemeriksaan, semua tersangka mengaku menerima duit masing-masing Rp 36 juta.
Enam tersangka di antaranya sudah mengembalikan uang tersebut. Meski begitu, Wika menegaskan, pihaknya tetap akan memproses semua yang terlibat dalam kasus dugaan korupsi asuransi fiktif senilai Rp 1, 7 miliar. “Mengembalikan atau tidak, tetap akan kami proses. Karena ini sudah jelas ada unsur pidana korupsinya.”
Menurut Wika, meski sudah menjadi tersangka, 17 eks dewan tidak ditahan. Alasannya, saat ini masih fokus pemberkasan. “Jika semua cepat rampung, maka akan kami limpahkan tersangka beserta barang buktinya.”
Kasus dugaan korupsi asuransi fiktif ini merupakan kasus asuransi fiktif jilid III. Sebelumnya, kasus dugaan korupsi asuransi fiktif jilid I telah menyeret 9 mantan pimpinan dewan dan anggota DPRD Kota Semarang ke meja hijau.
Mereka sudah dijatuhi vonis oleh Pengadilan Negeri (PN) Semarang. Tiga di antaranya, mantan pimpinan DPRD Kota Semarang periode 1999-2004. Yakni, Ismoyo Subroto, Hamas Ghany dan Humam Mukti Azis. Ketiganya dijatuhi vonis 4 tahun penjara.
Sedangkan 6 tersangka lainnya, awalnya divonis 1 tahun penjara. Mereka adalah mantan anggota dewan dari unsur komisi C pada periode yang sama. Masing-masing Fathurrahman, Agustina Wilujeng, Santoso Hutomo, Tohir Sandirjo, Sonhaji dan Hindarto Handojo. Namun, di tingkat kasasi, oleh Mahkamah Agung, keenam mantan anggota dewan itu dinyatakan bebas.
Sementara itu, dalam kasus asuransi jilid II, enam mantan anggota DPRD ditetapkan sebagai tersangka. Kini mereka tengah menjalani persidangan di PN Semarang.
Mereka adalah ketua DPRD Kota Semarang periode 1999-2004: Sriyono, serta lima anggota DPRD periode 1999-2004. Masing-masing Djunaidi, Elvi Zuhroh, Purwono Bambang Nugroho, Tri Joko Haryanto dan AY Sujianto. Tersangka Tri Joko Haryanto diketahui sudah meninggal dunia.
Kasus dugaan korupsi asuransi fiktif bermula dari pelaksanaan program asuransi Dana Sejahtera Abadi antara DPRD Kota Semarang dengan PT Pasaraya Life pada 2003.
Program asuransi itu menawarkan premi sebesar Rp 38,4 juta per orang untuk jangka waktu setahun.
Total premi mencapai sekitar Rp 1,7 miliar. Tapi, faktanya, kerja sama premi asuransi tidak pernah ada alias fiktif. Dalam praktiknya, dana Rp 1,7 miliar itu diduga dijadikan bancakan para anggota dewan. (fth/isk)